Senin, 05 Apr 2021 19:36 WIB

Mutasi E484K 'Eek' Bikin COVID-19 Lebih Kebal Vaksin? Ini Kata Ahlinya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Petugas tenaga kesehatan memberikan vaksin kepada tokoh agama di kawasan Balai Yos Sudarso Kantor Walikota Jakarta Utara, Senin (15/3). Pencanangan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) bagi tokoh agama digelar di Balai Yos Sudarso, Kantor Walikota Administrasi Jakarta Utara. Pencanangan menandai telah dimulainya vaksinasi bagi tokoh agama yang juga digelar di setiap Puskesmas Kelurahan se-Jakarta Utara. Foto: Pradita Utama
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut, mutasi virus Corona E484K alias varian 'Eek' juga ditemukan di Indonesia. Dikhawatirkan, vaksin Corona yang ada saat ini tak mempan melawan infeksi akibat mutasi ini.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio menjelaskan, mutasi E484K di Indonesia ditemukan pada pasien COVID-19 dengan infeksi varian B117 asal Inggris. Dari 10 pasien varian B117, 1 orang terkena virus dengan mutasi E484K.

Ia menambahkan, memang ada kemungkinan mutasi E484K atau varian Eek 'lolos' dari antibodi yang dibentuk oleh suntikan vaksin.

"Vaksin ini merangsang pembentukan antibodi. Antibodi punya spesifitas akan mengenal bagian tertentu dari virus, tidak seluruh bagian itu akan bisa dilawan. Hanya bagian tertentu saja oleh antibodi," terangnya saat dihubungi detikcom, Senin (5/4/2021).

Memang, varian B117 terbukti manjur dilawan oleh vaksin Corona yang sudah ada. Akan tetapi, mutasi E484K yang sejauh ini ditemukan pada pasien COVID-19 varian B117 berpotensi berbeda, sehingga antibodi yang terbentuk dari vaksin tak bisa mengenali mutasi ini.

"Setiap antibodi punya spesifitas hanya menempel ke bagian tertentu si virus. Kalau bagian itu (mutasi virus) berubah, antibodi jadi nggak bisa menempel lagi, nggak bisa mengenali lagi. Itu yang dikhawatirkan. Setidaknya, dayanya akan menurun," jelasnya lebih lanjut.

Namun Prof Amin menyebut, belum ada pembuktian lebih lanjut di laboratorium terkait efikasi vaksin Corona terhadap mutasi E484K.

Hingga kini, identifikasi mutasi-mutasi virus Corona termasuk E484K terus dilakukan. Pasalnya, mutasi ini bisa ada pada varian Corona lainnya seperti B1351 dari Afrika Selatan dan P1 dari Brasil.

Menurut Prof Amin, tidak perbedaan yang mencolok antara gejala infeksi mutasi E484K dengan mutasi Corona lainnya. Akan tetapi, penularannya berpotensi lebih cepat dibanding mutasi lainnya.

"Kekhawatirannya adalah yang utama, penularannya lebih cepat karena dia replikasinya lebih tinggi, lebih kuat sehingga dari situ dikhawatirkan akan lebih cepat menular dan menularkan ke banyak orang," pungkasnya.



Simak Video "Jepang Temukan Mutasi Virus Corona Baru Bernama 'Eek'"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19