Jumat, 09 Apr 2021 08:17 WIB

Menkes: Ketersediaan 100 Juta Vaksin AstraZeneca untuk RI Belum Pasti

Ayunda Septiani - detikHealth
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Jakarta -

Adanya embargo dari India terkait vaksin AstraZeneca juga berimbas pada proses distribusi vaksin COVID-19 ke Indonesia. Hal ini membuat laju vaksinasi RI tak bisa dipercepat.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut untuk pengiriman vaksin COVID-19 AstraZeneca ke Indonesia kemungkinan akan tertunda. Menkes mengatakan AstraZeneca mengundur jadwal pengiriman vaksinnya di tahun ini.

Disebutkan, pemerintah memperoleh vaksin Astrazeneca melalui dua mekanisme. Pertama melalui jalur bilateral sebanyak 50 juta dosis, lalu ada jalur multilateral melalui Covavax-GAVI sebanyak 54 juta dosis AstraZeneca.

"Yang bermasalah pertama kali adalah Covavax-GAVI, karena adanya embargo dari India, GAVI merelokasi vaksin seharusnya terima 11 juta dosis di Maret hingga April ditunda semua ke bulan Mei. Kita hanya dapat 1 juta dosis. Ini juga belum mendapat konfirmasi," jelasnya.

"Terus terang ini bukan suatu hal yang bisa kita terima. Kita langsung lakukan komunikasi dengan pihak AstraZeneca. Jadi ada 100 juta dosis vaksin sampai sekarang menjadi agak tidak pasti jadwalnya," tambah Budi.

Namun, Menkes Budi meyakini berdasarkan hitungan jumlah vaksin yang akan datang ke Indonesia masih dapat memenuhi kebutuhan RI. Walaupun belum semua mendapat komitmen tertulis dari produsen.

"Jumlah vaksin yang ada sampai sekarang sesudah revisi masih mencukupi angkanya di 396 juta dosis masih di atas (kebutuhan) 363 juta dosis, tapi memang ketidakpastiannya tinggi, karena bergantung pada suplai GAVI mereka sampai sekarang belum memberikan komitmen tertulis ke kita jadi masih ketidakpastian tinggi, saya susah beri kepastian karena belum dapat kepastian juga dari produsen," jelasnya.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI, Menkes Budi menjawab pertanyaan terkait skenario terburuk terkait vaksin, apakah jumlah vaksin masih bisa tidak tercapai?

"Risiko itu masih ada, makanya kita mau membuka jalur baru dengan berdiskusi dengan pemerintah China untuk meminta tambahan 90 hingga 100 juta dosis, kita masih mencari jalur baru," jelasnya.

Selain dari China, potensi vaksin COVID-19 juga cukup besar berasal dari Amerika Serikat (AS). Melihat dalam roadmap vaksinasi di AS bisa selesai pada bulan Juni mendatang.

"Rencana kami setelah itu akan melakukan lobi G2G kalau dibuka, kalau bisa Indonesia di list pertama. Ini masih diskusi dini untuk antisipasi," pungkas Budi.



Simak Video "Laporkan Ada Embargo Vaksin COVID-19, Menkes: Kita Perlu Hati-hati"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)