Minggu, 25 Apr 2021 15:00 WIB

Klaster Kantor DKI Naik, Tsunami COVID-19 di India Juga karena Euforia Vaksin!

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kemenkes mencatat 132.004 orang tenaga kesehatan di Indonesia sudah disuntik virus Corona. Angka itu adalah 22 persen dari total 598.483 Nakes yang akan divaksin. Vaksin COVID-19 (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Lewat media sosial, pemerintah provinsi DKI Jakarta mengumumkan adanya kenaikan kasus COVID-19 dari klaster kantor. Sebagian besar di antaranya sudah menerima vaksin COVID-19.

"Sebagian besar kasus konfirmasi COVID-19 di perkantoran terjadi pada perkantoran yang sudah menerima vaksinasi COVID-19," tulis Pemprov DKI Jakarta, dikutip detikcom pada Minggu (25/4/2021).

Unggahan itu juga disertai imbauan untuk tidak lengah meski sudah mendapat vaksinasi COVID-19. Seseorang yang telah mendapat vaksin lengkap tidak dijamin 100 persen kebal, masih bisa tertular maupun menularkan.

Para ilmuwan berulang kali mengingatkan, vaksin COVID-19 tidak menjamin seseorang benar-benar kebal. Namun vaksinasi tetap diperlukan untuk meminimalkan dampak infeksi, tidak memicu risiko fatal jika seseorang tetap tertular.

Euforia vaksinasi kerap membuat peringatan ini terlupakan. Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyoroti para pekerja yang 'lengah' dengan sudah mengadakan pertemuan-pertemuan secara offline karena merasa sudah kebal. Kebijakan work from home (WFH) juga sudah semakin ditinggalkan.

"Ada saya melihat, karena juga melihat banyak juga pertemuan dilakukan secara offline, kemudian juga banyak juga statement-statement yang sampai pada saya mengatakan sudah vaksin 'sudah yuk kita jalan' dan sebagainya. Nah ini artinya ada masalah strategi komunikasi yang tidak tepat," kata Dicky.

Lengah gara-gara merasa kebal setelah divaksinasi terbukti bisa berujung petaka. Salah satu penyebab India diterjang 'tsunami' COVID-19 setelah disebut-sebut hampir mencapai herd immunity adalah karena lengah, lalu melonggarkan protokol kesehatan.

Ritual keagamaan dan kegiatan politik yang melibatkan massa dalam jumlah besar akhirnya memicu penularan yang tidak terkontrol. Ditambah lagi, varian baru COVID-19 dengan mutasi tertentu diketahui bisa menular lebih mudah dan cepat.

Indonesia, menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, bisa terjerumus pada skenario serupa jika ikut-ikutan lengah. Kondisinya sama seperti di India, cakupan vaksinasi sebenarnya belum tinggi-tinggi amat jika dibandingkan dengan jumlah populasi.

Tidak mau terjerumus? Ya berarti harus belajar dari kesalahan India.

"Selama kita bisa jaga prokesnya terutama di hari-hari keagamaan tidak kumpul kumpul terlalu banyak, mudah-mudahan nggak kayak India," pesan Menkes Budi.



Simak Video "Total Kasus Corona India Tembus 18 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)