Minggu, 25 Apr 2021 18:16 WIB

Awak KRI Nanggala-402 Dinyatakan Gugur, Jaga Tutur Kata Agar Tak Ungkit Trauma

Vidya Pinandhita - detikHealth
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan KRI Oswald Siahaan (OWA) -354 bersiap-siap berlayar untuk melakukan operasi pencarian KRI Nanggala-402 di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (24/4/2021). Pencarian kapal selam KRI Nanggala-402 difokuskan di laut sebelah utara Bali, yakni sekitar 40 km dari Celukan Bawang, Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp. Pentingnya menjaga tutur kata terkait kabar duka menurut psikolog klinis. Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Indonesia berduka. Seluruh awak kapal selam KRI Nanggala-402 telah dinyatakan gugur akibat tenggelam di perairan Bali. Hal tersebut disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Minggu (25/4/2021).

Kini linimasa media sosial dipenuhi doa dan untaian penymangat. Namun di tengah suasana duka, sikap dan tutur kata wajib diperhatikan agar tidak menimbulkan rasa tersinggung, atau bahkan trauma bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu, psikolog klinis Kasandra Putranto dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia dalam program e-Life sempat membahas bagaimana publik bisa menjaga perasaan keluarga korban musibah. Perbincangan tersebut terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu.

Menurutnya, masyarakat wajib empatik ketika menyampaikan komentar di media sosial terkait berita duka. Jangan sampai ucapan, gambar, atau konten tertentu terkait kabar duka diunggah untuk menguntungkan diri sendiri, bahkan memicu gurauan di media sosial.

"Itu bisa jadi terbaca, terlihat oleh kelarga korban yang justru akhirnya menimbulkan trauma baru atau menjadi trauma berkepanjangan. Saya berharap bahwa dengan kesempatan ini, IPK Indonesia mencoba mengingatkan agar masyarakat bisa menahan diri untuk tidak melakukan ini," ujarnya.

Jika publik atau orang terdekat korban ingin menyampaikan ucapan bela sungkawa, jangan diiringi pertanyaan yang tidak sensitif, seperti seputar perasaan keluarga yang ditinggalkan.

Lebih baik, berikan perhatian untuk memastikan, keluarga yang sedang berduka setidaknya senantiasa dalam keadaan aman.

"Lebih baik memberikan reaksi atau ekspresi simpati empati. Kadang kata-kata itu justru tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah lebih kepada perhatian, pelukan, atau mungkin lebih kepada ekspresi yang apakah sudah makan, apakan sudah tidur. Jangan ditanya bagaimana perasaan, itu bukan hal yang etis untuk ditanyakan," jelas Kasandra.

Ia menegaskan, setiap orang wajib berhati-hati ketika melontarkan komentar. Psikolog sekali pun, tidak diperbolehkan berkomentar atas perasaan dari keluarga yang ditinggalkan.

"Setiap komentar bisa sangat berbahaya. Jangankan awam, teman, keluarga, kenalan, dan sebagainya. Psikolog saja tidak boleh berkomentar. Artinya, harus betul-betul hati-hati sekali karena harus menghindari adanya potensi trauma baru atau trauma berkepanjangan," pungas Kasandra.



Simak Video "Bahaya FWB, Bikin Trauma"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)