Senin, 26 Apr 2021 03:33 WIB

India Cetak Rekor Harian Dunia 4 Hari Berturut-turut, RS Beri Sinyal 'SOS'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
A body of a COVID 19 victim waits to be cremated in New Delhi, India, Monday, April 19, 2021. New Delhi has imposed a weeklong lockdown to prevent the collapse of the Indian capitals health system amid an explosive surge in coronavirus cases. Authorities said Monday that hospitals have been pushed to their limit. India now has reported more than 15 million coronavirus infections, a total second only to the United States. (AP Photo/Manish Swarup) Foto: AP/Manish Swarup
Jakarta -

India mencetak rekor harian dunia empat hari berturut-turut dengan menyumbang 349.691 kasus baru Corona pada Minggu (25/4/2021). Begitu juga dengan angka kematian yang melonjak, ada 2.767 warga India meninggal karena COVID-19 di 24 jam terakhir.

Negara berpenduduk 1,3 miliar itu melaporkan lebih dari satu juta kasus baru dalam tiga hari terakhir, membuat total kasus Corona dunia mencapai 16,9 juta kasus.

Nyawa pasien tak tertolong

Ibu kota New Delhi, menjadi daerah yang paling terdampak COVID-19 di India. Pasalnya, rumah sakit setempat sudah mengirimkan sinyal 'SOS' bahwa mereka tak lagi memiliki sisa bed untuk pasien COVID-19.

"Hampir setiap rumah sakit terancam. Jika oksigen habis, tidak ada kelonggaran bagi banyak pasien," kata Dr Sumit Ray dari Holy Family Hospital kepada BBC.

"Dalam beberapa menit, mereka akan mati. Anda dapat melihat pasien-pasien ini: mereka menggunakan ventilator, mereka membutuhkan oksigen aliran tinggi. Jika oksigen berhenti, kebanyakan dari mereka akan mati," lanjutnya.

Kata WHO soal Corona di India

Dalam konferensi pers mingguan, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan Corona di India seharusnya menjadi pelajaran dunia. Ia mewanti-wanti banyak negara untuk tak lengah menghadapi COVID-19 saat kasus mulai menurun dan vaksinasi telah berjalan.

"Situasi di India adalah pengingat yang menyedihkan tentang apa yang bisa dilakukan virus ini, dan mengapa kita harus mengumpulkan setiap alat untuk melawannya dalam pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi," kata Tedros.

"Ini adalah skenario yang terjadi di seluruh dunia, dan akan terus terjadi kecuali kita memastikan akses yang adil ke peralatan yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa," bebernya.

Ahli nilai lockdown tak cukup atasi Corona di India

Pakar virologi di Christian Medical College di kota Vellore di India selatan, Gagandeep Kang, mengatakan kepada BBC lebih banyak tindakan yang diperlukan untuk menghentikan penyebaran virus Corona.

"Kami perlu memastikan bahwa tidak ada kegiatan yang tidak penting yang terjadi. Anda tahu seperti apa pernikahan India, dan membatasi ukuran pertemuan, apakah itu untuk alasan keluarga, alasan sosial lainnya atau untuk bisnis atau untuk demonstrasi politik. Semua itu benar-benar harus dihentikan," katanya kepada BBC.

"Saya tidak berpikir penguncian nasional diperlukan, tetapi saya pikir di tempat-tempat yang menunjukkan peningkatan kasus, kami perlu melakukan intervensi dengan lebih ketat daripada yang telah kami lakukan di masa lalu."

Dikutip dari CNN, infeksi Corona yang meroket di India menghancurkan komunitas dan RS setempat. Semua RS kini kekurangan pasokan tempat tidur, obat-obatan, oksigen, hingga ventilator.

Jenazah pasien Corona juga menumpuk di kamar mayat dan krematorium, sehingga pihak berwenang terpaksa melakukan kremasi massal. Enam pekan lalu, Menteri Kesehatan India sempat mengakui kemenangan melawan Corona, tetapi euforia tersebut berimbas buruk pada situasi Corona di India saat ini.



Simak Video "Jerman Kirim Alat Kesehatan untuk Hadapi 'Tsunami Corona' di India"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)