Senin, 26 Apr 2021 11:27 WIB

Israel Temukan Kasus Radang Jantung pada Penerima Vaksin Pfizer

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
PM Israel Benjamin Netanyahu disuntik vaksin Pfizer-BioNTech. Ia dan Menteri Kesehatan Israel diketahu jadi yang pertama disuntik vaksin COVID-19 di negara itu. Israel menemukan adanya kasus radang jantung pada penerlma vaksin COVID-19 Pfizer. (Foto: AP Photo/AMIR COHEN)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan Israel tengah memeriksa sejumlah kasus radang jantung atau miokarditis pada penerima vaksin COVID-19 Pfizer. Data menunjukkan puluhan kasus miokarditis terjadi di antara lebih dari 5 juta pada orang yang telah menerima dua dosis dari vaksin tersebut.

Sebagian besar dari kasus itu dilaporkan banyak terjadi pada orang-orang di kisaran usia 30 tahun. Namun, koordinator respons pandemi Israel Nachman Ash mengatakan masih belum jelas diketahui seberapa tinggi kasus miokarditis ini dan apakah ada kaitannya dengan vaksin.

"Kementerian Kesehatan saat ini sedang memeriksa apakah ada kelebihan morbiditas (angka penyakit) dan apakah itu bisa dikaitkan dengan vaksin tersebut," kata Ash yang dikutip dari Reuters, Senin (23/4/2021).

Ash juga menekankan bahwa sampai saat ini Kementerian Kesehatan Israel belum menarik kesimpulan apapun dari kasus radang jantung ini. Ia mengatakan akan sulit menentukannya, karena miokarditis ini bisa disebabkan oleh berbagai virus dan sudah pernah dilaporkan sebelumnya.

Menanggapi ini, pihak Pfizer terus meninjau data tentang vaksinnya dengan menghubungi pihak Kementerian Kesehatan Israel. Pfizer mengatakan kasus ini terjadi terutama pada pria-pria muda yang telah menerima vaksin Pfizer.

"Kejadian buruk ditinjau secara teratur dan menyeluruh. Dan kami belum mengamati tingkat yang lebih tinggi dari miokarditis daripada yang diharapkan pada populasi umum. Hubungan kausal dengan vaksin belum ditetapkan," ujar perusahaan farmasi tersebut.

"Tidak ada bukti saat ini yang menyimpulkan bahwa miokarditis adalah risiko yang terkait dengan penggunaan vaksin Pfizer COVID-19," lanjutnya.

Direktur sekolah kesehatan masyarakat di Universitas Ben Gurion, Israel, Nadav Davidovitch mengatakan meskipun ada korelasi antara kasus miokarditis dan vaksin, hal itu tampaknya tidak cukup serius untuk menghentikan pemberian vaksin pada masyarakat.

"Ini situasi yang perlu diperhatikan, dan kami perlu menunggu laporan akhir. Tetapi, dalam analisis sementara tampaknya risiko sakit akibat COVID-19 jauh lebih tinggi daripada akibat efek samping vaksin dan risiko penyakit miokarditis setelah vaksinasi yang bersifat sementara," pungkasnya.



Simak Video "Singapura Resmi Gunakan Vaksin Pfizer untuk Remaja 12-15 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)