Rabu, 28 Apr 2021 05:16 WIB

'Triple Mutation' Corona India Juga Bisa Muncul di RI, Ini Pemicunya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Coronavirus Outbreak and Public Health Risk Disease, Lockdown and Quarantine, State Of Emergency Concepts Varian Corona India. (Foto: Getty Images/iStockphoto/goc)
Jakarta -

'Triple mutation' Corona B1618 belakangan menjadi kekhawatiran para ahli India, di tengah tsunami kasus COVID-19. Pasalnya, varian Corona dengan tiga mutasi ini adalah turunan dari mutan ganda yang dinilai lebih 'ganas' dan kebal antibodi pasca vaksin.

Selain itu, Corona B1618 juga diyakini ilmuwan mampu mengelabui tes PCR, sehingga tak mampu dideteksi. Guru Besar Universitas Airlangga Prof Chairul A Nidom menyebut bukan mustahil jika varian dengan tiga mutasi seperti Corona B1618 di India, bisa muncul di Indonesia.

Apa sih memangnya yang membuat virus Corona menjadi ganas?

"Perlu kita ketahui bahwa asam amino yang menyusun virus ada 3 macam yaitu asam amino yg bersifat asam (acidic amino acid), yang bersifat basa (basic amino acid) dan yang bersifat netral (neutral amino acid)," jelas Prof Nidom kepada detikcom Rabu, (28/4/2021).

"Jika asam amino asam mutasi menjadi asam amino basa atau asam amino yg netral atau sebaliknya; maka struktur tubuh virus pasti berubah, nah perubahan ini, bila bagian yg menimbulkan keganasan, maka virusnya menjadi ganas, dan begitu juga sebaliknya," lanjutnya.

Prof Nidom menegaskan, mutasi Corona yang mungkin ganas di negara lain, belum tentu memiliki karakteristik serupa saat masuk Indonesia. Bisa menjadi lebih jinak, atau memang lebih ganas.

Maka dari itu, Prof Nidom menjelaskan pentingnya menguji obat atau vaksin terhadap karakteristik mutasi atau virus baru, sehingga vaksin Corona yang kemudian digunakan bisa diyakini efektif melawan mutasi Corona yang terus bermunculan.

Pemicu munculnya varian Corona ganda hingga 'triple mutation'

Kata Prof Nidom, varian mutan ganda atau triple mutation bisa muncul karena sejumlah faktor. Salah satunya faktor genetik inang atau host, dan dari virus COVID-19 sendiri.

"Perbedaan lingkungan, suhu, kelembaban dan tersebarnya bahan-bahan organik yang bisa menjadi tempat bersembunyi virus bisa membedakan pola mutasi dari masing-masing varian," bebernya.

Faktor host yang dimaksud Prof Nidom adalah akibat lalainya protokol kesehatan. Mutasi Corona bisa terus muncul jika menjaga jarak, mencuci tangan, hingga memakai masker terlupakan, dan merasa 'kebal' karena sudah divaksinasi Corona.

"Perlu masyarakat tahu hasil vaksinasinya. Jika titer antibodi tinggi dan masih terinfeksi, bisa dipastikan virus tersebut varian baru (double/triple) akibat virus bisa menghindari antibodi vaksin yang lama," kata Prof Nidom, yang juga pakar biologi molekuler.

"Saya sarankan agar para peneliti mewaspadai terhadap aktivitas ADE (Antibody Dependent Enhancement) yaitu mutasi virus yg dibedakan virus bisa menghindari antibodi dari vaksinasi dan masuk lewat reseptor yang lain," pungkasnya.



Simak Video "Pemicu Virus Corona Gampang Bermutasi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)