Kamis, 06 Mei 2021 08:56 WIB

Sakit Hati Berujung Sate Takjil Beracun, Bagaimana Orang Bisa Senekat Itu?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Nani Aprilliani Nurjaman, pegirim takjil beracun di Bantul Salah kirim sate takjil beracun memakan korban anak driver ojol. Foto: PIUS ERLANGGA/detikcom
Jakarta -

Sakit hati melatarbelakangi tindakan Nani Apriliani mengirim sate beracun sianida. Namun lantaran target merasa tak mengenal identitas pengirim, sate ditolak dan diberikan pada driver ojek online pengirim sate. Akibat salah kirim, 'rezeki' sate takjil beracun malah menewaskan anak dari sang driver.

Kabar duka ini bukan satu-satunya kasus pembunuhan akibat sakit hati. Psikolog Anastasia Sari Dewi, founder Anastasia and Associate, menegaskan tindakan kriminal dengan alasan sakit hati kerap disebabkan mekanisme pertahanan ego yang lemah.

"Orang dengan pertahanan ego yang lemah tidak bisa menerima mantan menikah dengan orang lain. Dia berusaha menyelamatkan egonya dan dia melakukan itu dengan meracuni. Akhirnya apa? Tidak ada kebijaksanaan, kedewasaan untuk bisa mengembangkan kemampuan diri sendiri dalam mengontrol egonya," terangnya pada detikcom, Rabu (5/5/2021).

Menurutnya, orang dengan mekanisme ego yang lemah cenderung suka menyalahkan orang lain jika egonya dikalahkan. Misalnya, ego untuk merasa paling berharga, cantik, dan bernilai.

"Ada orang yang mekanismenya lemah, tidak kuat sehingga dia sering kali paling gampang untuk mempertahankan egonya, dia nyalahin orang lain. Dia sakiti, dia serang karena dia nggak mau egonya dikalahin," terangnya.

Melengkapi paparan Sari, psikolog dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani menjelaskan, tindakan menyakiti karena sakit hati kerap disebabkan kemampuan mengontrol emosi yang buruk.

"Kemampuan regulasi emosinya bisa jadi kurang baik, karena ia tidak mampu mengatur emosinya agar marah tanpa merugikan atau menyakiti diri sendiri atau orang lain," ujarnya.

Akibat minim kemampuan mengomunikasikan masalah, orang dengan kondisi seperti ini cenderung mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Misalnya, dengan cara merugikan orang lain.



Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)