Selasa, 18 Mei 2021 10:30 WIB

Minta Maaf Setelah Aksi Memaki Petugas Diviralkan, Benarkah Bikin Jera?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Hendak ke Anyer, Wanita maki petugas saat diminta putar balik (Istimewa) Foto: Hendak ke Anyer, Wanita maki petugas saat diminta putar balik (Istimewa)
Jakarta -

Berdekatan dengan momen libur Lebaran, sejumlah video viral mempertontonkan masyarakat memaki petugas akibat terjaring penyekatan di titik-titik larangan mudik. Kata-kata kasar terlontar dengan beringas dan bisa ditonton siapapun karena beredar luas di media sosial.

Berbagai video viral aksi memaki petugas umumnya berakhir dengan permintaan maaf oleh pelaku, yang juga tidak kalah viral. Banyak kalangan menganggap, viralnya aksi memaki lalu disusul permintaan maaf sebagai sanksi sosial yang diharapkan memberi efek jera.

Psikolog Anasastasia Sari Dewi, founder pusat konsultasi Anastasia and Associate menjelaskan, menyebarluaskan video pemudik mengamuk sebenarnya tak selalu efektif menciptakan efek jera baik pada pelaku, atau publik yang menonton.

Menurutya, tak semua masyarakat terpengaruh oleh sanksi sosial semacam itu. Bagi beberapa orang, tidak ada 'nama baik' yang dipertaruhkan.

"Untuk orang-orang tertentu mungkin kalau menengah ke atas, mobil berplat dinas berplat pejabat itu memberikan efek jera luar biasa karena itu mengancam kariernya," terangnya pada detikcom, Senin (17/5/2021).

"Tapi untuk orang dengan level menengah ke bawah tentu saja hukuman dengan sanksi berupa meminta yang bersangkutan minta maaf di media sosial maupun direkam tidak terlalu memberi efek jera karena bagi mereka, tidak melihatnya sebagai sesuatu yang berat, tidak ada yang dipertaruhkan," lanjutnya.

Menurutnya, pemberian sanksi harus menyesuaikan karakteristik pelanggar aturan. Misalnya, menyesuaikan kemampuan finansial. Jika pelanggar tidak datang dari kalangan menengah ke atas, sanksi berupa denda rupiah bisa lebih efektif memberikan efek jera dibandingkan menyebarluaskan adegan marah-marah lewat video viral.

Ia memahami, urusan mudik bukan hal sepele di Indonesia. Sudah bertahun-tahun masyarakat berangkat mudik di kala Lebaran.

Mungkin harapannya dengan mempertontonkan pemudik yang mengamuk ketika disuruh putar balik, masyarakat yang menonton menjadi terpengaruh untuk menaati aturan larangan mudik yang ada.

"Tingkat pendidikan juga perlu diperhatikan, dipertimbangkan sehingga sulit sekali untuk diatur karena mereka lebih, atau kemampuan untuk menganalisa sebab-akibat dan risiko khususnya terkait pandem itu tidak terlalu tinggi. Mereka kurang mengerti, kurang bisa menangkap esensi terkait ini. Jadi hanya kalangan tertentu yang bisa aham bahayanya pandemi dan kerumunan," pungkas Sari.



Simak Video "Epidemiolog Sebut Larangan Mudik Tak Efektif Tekan Mobilitas Masyarakat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)