Kamis, 20 Mei 2021 08:47 WIB

Kala Sungai Tersuci di India Penuh dengan Jenazah Korban COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Bodies of suspected Covid-19 victims are seen in shallow graves buried in the sand near a cremation ground on the banks of Ganges River in Prayagraj, India, Saturday, May 15, 2021. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh) Mayat di sungai Gangga, India. (Foto: AP/Rajesh Kumar Singh)
Jakarta -

Ratusan mayat ditemukan mengapung di sungai atau terkubur di pasir tepi sungai Gangga. Mereka yang tinggal di sekitar sungai, tempat mereka biasa mandi, khawatir jenazah yang menumpuk tersebut adalah korban COVID-19.

India kembali mencatatkan rekor kematian harian dengan lebih dari 4 ribu korban jiwa di gelombang kedua pandemi COVID-19. Tetapi para ahli yakin jumlah kematian jauh lebih banyak daripada yang terlaporkan.

Dilaporkan BBC, beberapa saksi mata yang tinggal di distrik terhantam paling parah di Uttar Pradesh, menceritakan bahwa mayat-mayat yang ada di sungai itu terkait dengan kepercayaan tradisional, kemiskinan, dan pandemi yang menewaskan seseorang dengan cepat.

Kengerian di Uttar Pradesh pertama kali terungkap pada 10 mei ketika 71 mayat terdampar di tepi sungai di desa Chausa Bihar, dekat perbatasan negara bagian.

Penduduk setempat mengatakan mayat-mayat itu telah terdampar selama beberapa hari, tetapi pihak berwenang mengabaikan keluhan mereka tentang bau busuk itu sampai berita tentang penemuan mayat di sungai menjadi berita utama.

Potret lusinan tubuh yang sudah membengkak dan membusuk juga ada di desa di distrik tetangga Ballia ketika mereka pergi untuk berendam pagi di sungai paling suci di India. Surat kabar lokal Hindustan melaporkan bahwa polisi menemukan sekitar 62 mayat.

Ada tradisi buang mayat di sungai

Secara tradisional, umat Hindu mengkremasi jenazah mereka. Tetapi banyak komunitas mengikuti apa yang dikenal sebagai "Jal Pravah" - praktik membuang mayat di sungai dengan tubuh anak-anak, gadis yang tidak menikah, atau mereka yang meninggal karena penyakit menular atau gigitan ular.

Selain itu pembuangan mayat di sungai juga dilatarbelakangi banyak orang miskin yang tidak mampu membayar kremasi. Kadang-kadang, mayat diikat dengan batu untuk memastikan mereka terendam.

Di waktu normal, mayat yang mengapung di Sungai Gangga bukanlah pemandangan yang tidak biasa.

Yang jarang terjadi adalah begitu banyak mayat yang muncul dalam waktu sesingkat itu, dan di banyak tempat di sepanjang tepi sungai.

Seorang jurnalis di Prayagraj mengatakan dia yakin banyak jenazah adalah pasien Covid yang meninggal di rumah tanpa tes, atau orang miskin yang tidak mampu membayar kremasi.

"Ini memilukan," katanya.

"Semua orang ini adalah putra, putri, saudara laki-laki, ayah, dan ibu seseorang. Mereka pantas dihormati dalam kematian. Tetapi mereka bahkan belum menjadi bagian dari statistik - mereka meninggal tanpa diketahui dan dikuburkan tanpa diketahui."



Simak Video "Konjen RI di India Ungkap Fakta Penemuan Jenazah di Sungai Gangga"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)