Kamis, 20 Mei 2021 09:16 WIB

Ngeri! Ini Penampakan Banyaknya Mikroba Jika Tak Ganti Masker Lebih dari 6 Jam

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
VANCOUVER, BRITISH COLUMBIA - APRIL 4:  Reporter Wendy Luo holds up a N95 mask manufactured by 3M, one of the only masks that guards against germs such as severe acute respiratory syndrome (SARS) April 4, 2003 in Vancouver, British Columbia, Canada. A SARS clinic opened at noon today at St. Vincents Hospital in Vancouver, British Columbia, Canada. SARS is a flu-like illness which has killed at least 80 people, mostly in Asia, and more than 2,200 have been infected around the world. U.S. President George W. Bush listed the mystery virus as a communicable disease by executive order today.  (Photo by Don MacKinnon/Getty Images) Pakai masker berjam-jam juga berdampak buruk bagi kesehatan. (Foto: iStock)
Jakarta -

Masker adalah benda yang wajib dipakai pada masa pandemi virus Corona. Penggunaan masker yang tepat diyakini bisa mencegah penularan virus sampai 90 persen.

Namun masker yang dipakai berulang kali bisa mengandung bakteri dan mikroba yang berasal dari kulit dan droplet.

Sebuah percobaan yang dilakukan laboratorium Eurofins, Singapura, menunjukkan bahwa bakteri, ragi, dan jamur ditemukan dalam jumlah banyak ketika masker dipakai dalam waktu lama.

Eksperimen tersebut melibatkan masker sekali pakai dan masker yang dapat digunakan kembali. Masker itu dipakai selama 6 jam dan 12 jam untuk tujuan perbandingan.

Mereka kemudian diuji untuk melihat jumlah total bakteri, ragi dan jamur, serta Staphylococcus aureus, yang umumnya terkait dengan infeksi kulit, dan Pseudomonas aeruginosa, yang terkait dengan ruam.

Masker yang bisa dipakai lagi umumnya mengandung lebih banyak mikroba daripada yang sekali pakai.

"Mengingat kita dikelilingi oleh mikroba di lingkungan, bahkan di dalam sistem pencernaan kita (mulut dan usus), tidak jarang ditemukan mikroba pada masker," kata Profesor William Chen, Direktur Program Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Teknologi Nanyang, kepada Strait Times.

Sementara itu, Dr John Common, peneliti utama di Skin Research Institute of Singapore, di Agency for Science, Technology and Research, mengatakan S. aureus dapat menghasilkan sejumlah racun yang terkadang merugikan manusia.

Bakteri ini diklasifikasikan sebagai pathobiont, yang berarti dapat menyebabkan kerusakan pada kondisi tertentu, meskipun bakteri tersebut dapat ditemukan secara umum pada orang sehat.



Penggunaan lebih dari 6 jam

Eksperimen tersebut menemukan masker yang dipakai dalam periode yang lama memiliki jumlah bakteri dan jamur lebih banyak sehingga meningkatkan risiko seseorang menjadi sakit.

Bakteri semacam itu, yang hidup di kulit yang sehat, dapat tumbuh hingga tingkat yang tinggi pada masker kotor dan menyebabkan penyakit.

"Pada tingkat rendah, sistem kekebalan Anda menjaga mereka tetap terkendali, tetapi pada tingkat yang tinggi, hal itu dapat menyebabkan reaksi alergi ringan hingga parah, masalah pernapasan, dan bahkan infeksi hidung," kata Dr John Chen, asisten profesor di departemen mikrobiologi dan imunologi di National University of Singapore.

Karena sulit untuk memastikan apakah ada bakteri berbahaya yang ada pada masker, disarankan bagi orang untuk sering mencuci masker, atau menggantinya sesering mungkin.



Simak Video "Jenis Masker yang Dianjurkan Dipakai saat PPKM Darurat!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)