Sabtu, 22 Mei 2021 06:00 WIB

Ratusan Kuburan Korban Corona di Gangga, Sungai Paling Disucikan di India

Ayunda Septiani - detikHealth
Jakarta -

Sungai tersuci di India, sungai Gangga, dipenuhi ratusan jenazah dalam beberapa hari terakhir, baik mengapung di sungai atau terkubur pasir di tepian sungai.

Masyarakat yang hidup dekat dengan sungai dan menggunakan air itu untuk keperluan sehari-hari di negara bagian utara Uttar Pradesh, khawatir jika jenazah tersebut merupakan korban COVID-19.

Dikutip dari laman BBC, India telah kewalahan menghadapi gelombang kedua pandemi COVID-19 yang menghancurkan dalam beberapa pekan terakhir.

Tercatat, lebih dari 25 juta kasus dan 275.000 kematian, walaupun para ahli mengatakan jumlah kematian sebenarnya beberapa kali lebih tinggi.

Jenazah-jenazah di tepi sungai tersebut menggambarkan bahwa ada kemungkinan korban COVID-19 meninggal yang tidak terlihat dan tidak diketahui dalam data resmi.

BBC pun mewawancarai wartawan lokal, pejabat, dan saksi mata setempat di beberapa distrik yang terkena dampak paling parah di Uttar Pradesh.

Hasilnya, ditemukan ada cerita di balik ratusan mayat yang mengapung itu mulai dari kepercayaan tradisional, kemiskinan, dan pandemi yang menewaskan orang dengan kecepatan kilat.

Bodies of suspected Covid-19 victims are seen in shallow graves buried in the sand near a cremation ground on the banks of Ganges River in Prayagraj, India, Saturday, May 15, 2021. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh)Potret ratusan jenazah di Sungai Gangga. Foto: AP/Rajesh Kumar Singh

Penguburan jenazah COVID-19 dari jam 7 pagi sampai 11 malam

Penemuan kuburan dan jenazah yang membusuk, serta ketakutan akan terinfeksi virus Corona, telah mengirimkan gelombang kejut ke desa-desa di sepanjang tepian sungai.

Berhulu dari Himalaya, Sungai Gangga merupakan salah satu sungai terbesar di dunia. Umat Hindu menganggapnya sakral dan percaya bahwa mandi di sungai Gangga akan membersihkan dosa-dosa mereka dan menggunakan airnya untuk ritual keagamaan.

Di Kannauj, Jagmohan Tiwari, seorang warga desa berusia 63 tahun mengatakan kepada saluran lokal bahwa dia telah melihat 150-200 kuburan di Sungai Gangga.

"Penguburan berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam," katanya. "Itu menghancurkan jiwa."

Penemuan kuburan di sungai Gangga tersebut telah memicu kepanikan di daerah tersebut. Orang-orang khawatir jenazah yang terkubur di dasar sungai akan mulai mengapung begitu hujan turun dan permukaan air naik.

Rabu (19/5/2021) lalu, pemerintah negara bagian melarang "Jal Pravah", ritual melarung jenazah, dan menawarkan bantuan dana kepada keluarga miskin yang tidak mampu membayar kremasi.

Di banyak tempat, polisi mengevakuasi jenazah dari sungai dengan tongkat dan meminta bantuan tukang perahu untuk membawa mereka ke darat. Kemudian, jenazah yang membusuk dikubur di dalam lubang atau dibakar di atas kayu bakar.

Vipin Tada, inspektur polisi di Ballia, mengatakan tengah berkomunikasi dengan pemimpin dewan desa untuk membuat mereka sadar bahwa jenazah tidak boleh diapungkan di sungai dan bagi yang tidak mampu membayar kremasi dapat mencari bantuan keuangan.

(ayd/up)