Rabu, 26 Mei 2021 05:50 WIB

Wajib Jujur Saat Screening Vaksin Corona! Risiko Pembekuan Darah Bisa Dicegah

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah pedagang di Thamrin City menjalani vaksinasi COVID-19 hari ini. Program vaksinasi yang menarget 2000 peserta itu akan digelar selama dua hari. Ilustrasi Vaksin COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Menjawab jujur ketika ditanya seputar riwayat penyakit sebelum divaksin COVID-19 adalah langkah krusial. Dengan begitu, dokter bisa menentukan aman-tidaknya vaksinasi, serta menekan risiko efek samping berat atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) serius, termasuk pembekuan darah.

Ketua Komda PP KIPI Provinsi DKI Jakarta dr Ellen Sianipar, SpA(K) menyebut, kasus tidak jawab jujur ini biasanya disebabkan pasien tak mau giliran vaksinasinya diundur.

Meski menurutnya laporan KIPI serius yang muncul kurang dari 1 persen, sikap terbuka dan menjawab jujur ketika hendak disuntik vaksin COVID-19 amat penting untuk mendeteksi dan menekan potensi KIPI serius.

"Pasien tidak terbuka atau yang menyembunyikan atau merasa bahwa dirinya ingin segera mendapat vaksinasi atau menggebu-gebu. Ada beberapa tidak dikatakan, misal sudah pusing sejak kemarin tapi ketika ditanyakan dia tidak mengatakan apa-apa. Ditensi baik, disuhu baik, tapi karena dia tidak mengatakan apa-apa, dilakukan vaksinasi," terangnya dalam diskusi daring, Selasa (25/4/2021).

Ia mengingatkan, pertanyaan seputar riwayat penyakit diberikan sebelum calon penerima vaksin disuntik. Di tahap pemeriksaan ini, calon penerima bisa menyampaikan keluhan dan gejala yang dirasakan. Jika hasil pemeriksaan dokter menyatakan aman, barulah vaksinasi akan dilakukan.

Jika calon penerima memang diketahui memiliki riwayat penyakit komorbid jauh hari sebelum divaksin COVID-19, baiknya sebelum jadwal vaksinasi periksakan diri dulu ke dokter yang biasa menangani.

"Harapannya masyarakat lebih terbuka, jujur untuk mengatakan. Jika punya komorbid, jika ragu-ragu lebih baik diperiksa dulu oleh dokter yang merawat atau yang biasa kontrol untuk mengetahui apakah bisa dilakukan vaksinasi atau tidak," imbuh dr Ellen.

"Jika didapatkan efek misalnya ada keluhan, harap hubungi tempat vaksinasi nomor teleponnya. Jika tidak bisa dihubungi, silakan hubungi fasilitas kesehatan terdekat," pungkasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan bahwa tromboemboli terjadi ketika ada bekuan darah yang terbentuk di pembuluh darah lalu terlepas dan terbawa aliran darah. Bekuan tersebut bisa menyumbat pembuluh darah di tempat lain dan berakibat fatal.

"Tromboemboli vena merupakan penyakit kardiovaskular nomer 3 paling sering terjadi di dunia. Sehingga bukan tidak mungkin hal itu terjadi secara bersamaan namun tidak berhubungan dengan vaksinasi," tegas Prof Wiku, menegaskan pentingnya kejujuran saat screening, dalam pemaparan update COVID-19 Selasa (25/5/2021).



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)