Senin, 31 Mei 2021 12:18 WIB

'Blasteran' Corona Inggris-India Ditemukan di Vietnam, Seberapa Ganas?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
United Kingdom, British flag on the COVID-19, coronavirus, virus one side is dark, one side is bright Ilustrasi varian baru Corona. (Foto: Getty Images/iStockphoto/s-cphoto)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, muncul varian Corona baru 'blasteran' India-Inggris. Kemunculan varian ini diumumkan oleh Kementerian Kesehatan Vietnam dan diklaim menyebar dengan cepat di udara.

"Vietnam telah menemukan varian baru COVID-19 yang mengkombinasikan karakteristik dua varian yang lebih dulu ada, yang pertama kali ditemukan di India dan Inggris," kata Nguyen Thanh Long, Menteri Kesehatan Vietnam, dikutip dari Reuters, Minggu (30/5/2021).

Dikutip dari VnExpress International, dari pengurutan genetik yang dilakukan oleh National Institute of Hygiene And Epidemiology, setidaknya ada empat pasien COVID-19 di Vietnam yang membawa varian blasteran atau hibrida itu.

Menurut pakar epidemiologi Universitas Griffith Dicky Budiman, kemunculan varian baru 'blasteran' atau hybrid ini sangat mungkin terjadi. Dan ternyata, kasus hybrid atau sering disebut sebagai rekombinasi ini juga bukan hal yang baru.

"Sangat mungkin, itu yang disebut dengan hybrid mutation atau sering disebut juga dengan rekombinasi, dan bukan hal yang baru," jelas Dicky dalam pesan suara yang diterima detikcom, Senin (31/5/2021)

"Hybrid virus ini adalah hasil dari rekombinasi umumnya strain yang lebih merugikan manusia, seperti halnya yang terbaru UK (B117) dan India (B1617), serta di Amerika Serikat antara B117 dan B1429 yang endemiknya ada di California," lanjutkan.

Apakah varian itu bisa jadi lebih berbahaya?

Dicky mengatakan kejadian hybrid atau rekombinasi ini bisa menyebabkan munculnya varian baru yang lebih berbahaya atau yang ia sebut sebagai super strain. Ini membuat varian tersebut lebih menginfeksi manusia.

"Tapi ada potensi (rekombinan) itu menguntungkan virusnya. Dalam arti, secara evolusi dia jadi lebih bertahan, lebih mudah menginfeksi, artinya merugikan manusia. Ini juga bisa menciptakan atau menyebabkan terjadinya varian baru yang lebih berbahaya," jelasnya.

Namun, kejadian rekombinasi ini tidak selalu menguntungkan si virus. Ada kemungkinan kejadian ini membuat virus menjadi lemah dan tidak bisa menginfeksi manusia.

Dicky mengatakan sampai saat ini hybrid atau 'blasteran' antara dua varian virus tersebut masih terus ditelusuri. Ini untuk membuktikan apakah 'blasteran' virus ini hanya rekombinan saja, tetapi gagal menginfeksi manusia.

"Potensi varian baru atau saya menyebutnya dengan super strain itu besar kemungkinan terjadi di tahun ini. Terutama di negara-negara atau kawasan yang tidak terkendali pandeminya seperti Amerika Serikat, India, Brasil, hingga Indonesia. Sebagai contoh di Amerika terjadi antara varian UK dan California, itu jadi rekombinan," sambungnya.

Selain itu, Dicky juga mengatakan bahwa rekombinan ini sering terjadi pada keluarga Coronavirus. Kok bisa?

"Karena enzim yang mereplikasi di dalam genome mereka ini memang sangat rentan menyebabkan rekombinasi, sleeping off namanya dari RNA-nya. Dan ini yang membuat famili dari virus Corona ini sering terjadi rekombinasi," pungkasnya.



Simak Video "Epidemiolog Khawatir dengan Kemunculan Sejumlah Varian Baru Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)