Selasa, 01 Jun 2021 06:55 WIB

Cerita Shahnaz Haque Melawan Kanker Ovarium, Apa Saja Sih Gejalanya?

Tim detikHealth - detikHealth
Shahnaz Haque Shahnaz Haque (Foto: Gus Mun)
Jakarta -

Setelah 7 tahun ditinggal ibunda karena kanker ovarium, presenter Shahnaz Haque pada 1998 mendapati dirinya digerogoti penyakit yang sama. Riwayat keluarga memang menjadi faktor risiko penyakit tersebut.

"Ibu saya meninggal karena kanker ovarium, begitu juga nenek saya. Tetapi mereka tidak cukup beruntung karena kanker ovarium tidak bertanda sehingga mereka mengetahui di stadium lanjut," kisah Shahnaz dalam webinar AstraZeneca baru-baru ini.

Baik ibu maupun neneknya baru ketahuan mengidap kanker ovarium ketika sudah stadium lanjut. Shahnaz merasa beruntung, kanker yang diidapnya ketahuan lebih dini dan mengikuti saran dokter untuk operasi.

Gejala kanker ovarium mulai dirasakan Shahnaz ketika berusia 26 tahun. Ketika itu, ia memeriksakan diri ke dokter karena tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan meski belum pernah berhubungan seks sebelumnya.

Shahnaz menyebut, gaya hidup juga berpengaruh terhadap risiko kanker ovarium. Karenanya, setelah dinyatakan 'sembuh' ia bertekad untuk mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat, dari yang sebelumnya terlalu sibuk bekerja sehingga kurang menjaga kesehatan.

"Dulu saya adalah orang yang tidak peduli dengan kesehatan, saya datang ke RS hanya saat saya sakit. Saya bergerak karena saya bekerja tetapi bukan olahraga. Banyak yg berubah sejak melakukan operasi. Saya tidak makan makanan kaleng, sarden, dan kornet. Makanan tidak bolak balik ke lemari es dan dipanaskan," tutur Shahnaz.

Setelah menikah Shahnaz Haque dikaruniai tiga orang anak perempuan. Berkaca dari pengalaman hidupnya, Shahnaz Haque mendidik anak-anaknya untuk mengenal tubuhnya, faktor risiko kanker ovarium, dan riwayat penyakit keluarganya.

Gejala kanker ovarium

Ketua Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI), Prof Dr dr Andrijono, SpOG(K), menjelaskan bahwa gejala kanker ovarium seringkali sulit diidentifikasi. Karenanya, penyakit ini sering ketahuan ketika sudah terlanjut makin parah.

"Padahal jika dideteksi lebih awal, kanker ovarium dapat ditangani," kata Prof Andrijono.

Sementara itu dr Pungky Mulawardhana, SpOG(K) menjelaskan ada beberapa gejala kanker ovarium yang perlu diwaspadai. Di antaranya:

  • Sering buang air kecil
  • merasa cepat kenyang
  • sakit di bagian panggul atau perut
  • kembung.

Beberapa gejala yang lebih spesifik di antaranya:

  • Sulit buang air besar
  • nyeri dan mengeluarkan darah setelah hubungan seksual
  • nyeri di punggung
  • ada pengumpulan cairan yang membuat perut menjadi besar baru terlihat saat stadium lanjut.

Menurut dr Pungky, 70-80 persen kanker ovarium didiagnosis saat sudah mencapai stadium 3-4 yang artinya peluang untuk bertahan hidup makin menipis. Jika terdeteksi pada stadium awal, risiko kematian lebih bisa dihindari.

"Kanker ovarium (adalah) silent killer karena angka mortalitas tinggi dibandingkan kejadiannya," tegasnya.



Simak Video "Seperti Feby Febiola, Ini Penyebab Rambut Rontok saat Kemoterapi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)