Jumat, 04 Jun 2021 12:45 WIB

Saran Pakar FKUI Jika Tetap 'Maksa' Sekolah Tatap Muka Mulai Juli

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
SMKN 1 Depok, Sleman, Yogyakarta, melakukan uji coba sekolah tatap muka. Ada 10 SMK-SMA di Yogyakarta yang mulai melakukan uji coba sekolah tatap muka. Foto ilustrasi: Jauh Hari Wawan S
Jakarta -

Kegiatan sekolah tatap muka di Indonesia direncanakan mulai pada Juli 2021. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim telah menegaskan tak ada tawar menawar lagi terkait hal ini.

"Tidak ada tawar-menawar untuk pendidikan, terlepas dari situasi yang kita hadapi," kata Nadiem dalam acara yang disiarkan YouTube Kemendikbud RI, Rabu (2/6/2021).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Prof dr Menaldi Rasmin, SpP(K), mengatakan perlu ada perencanaan yang matang sebelum dibukanya sekolah tatap muka.

Misalnya, dengan melakukan pemetaan terkait daerah-daerah yang memiliki tingkat penyebaran COVID-19 yang tinggi. Terlebih saat ini sejumlah wilayah telah melaporkan adanya varian baru Corona.

"Saat ini kita sebetulnya masih belum tahu berapa besar kejadian mutasi varian baru. Jadi menurut saya, ini adalah suatu hal yang patut dipertimbangkan ketika kita menginginkan sekolah tatap muka," kata Prof Menaldi dalam webinar FKUI, Jumat (4/6/2021).

Selain itu, kata Prof Menaldi, anak-anak dan remaja cenderung belum bisa diatur dengan benar terkait penerapan protokol kesehatan. Oleh karenanya, perlu ada bimbingan dan pemantauan yang tepat agar mereka dapat belajar di sekolah dengan kondusif dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Kalau yang tatap muka itu adalah perkantoran, saya kira masih bisa karena orang dewasa masih bisa diatur. Tapi kalau tingkat anak-anak dan remaja itu biasanya main menjadi bagian ke sekolah," ujarnya.

"Jadi kalau memang mau melakukan itu harus dengan peraturan yang ketat, terutama pada anak-anak yang tingkatnya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK, SD, SMP, SMA, sampai pendidikan tinggi," jelasnya.

Meski begitu, Prof Menaldi pun mengaku sekolah tatap muka tetap perlu dilakukan. Terutama pada pembelajaran yang mengutamakan praktik, seperti sekolah kedokteran.

"Sebaliknya pada pendidikan tinggi juga ada yang tidak mungkin terus-terusan tidak tatap muka, di kedokteran misalnya. Jadi memang ada juga pendidikan yang suka tidak suka sudah harus memulai pendidikan tatap muka, walaupun dengan prokes yang sangat ketat," ungkap Prof Menaldi.

"Tetapi kalau untuk yang masih bisa dilakukan pendidikan yang daring. Barangkali pilihan daring itu pada saat kita belum pernah punya peta yang tegas tentang varian baru lebih baik itu masih kita pilih," tuturnya.



Simak Video "Vaksinasi Guru Ditargetkan Selesai Sebelum Sekolah Tatap Muka Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)