Kamis, 10 Jun 2021 16:06 WIB

Beda Vaksin Sinovac Vs AstraZeneca, dari Efikasi Sampai Efek Samping

Firdaus Anwar - detikHealth
Petugas membawa Envirotainer berisi vaksin COVID-19 setibanya di Teminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (31/5/2021). Sebanyak delapan juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac kembali tiba di Indonesia dan selanjutnya akan dilakukan proses produksi oleh Bio Farma. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa. Ini beda Vaksin Sinovac Vs AstraZeneca. (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta -

Vaksin Sinovac dan Astrazeneca saat ini jadi vaksin COVID-19 yang paling banyak digunakan di Indonesia. Banyak yang membandingkan vaksin Sinovac vs AstraZeneca, apa sih bedanya?

Vaksin Sinovac dan AstraZeneca diketahui sudah mendapat izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga efektivitas dan keamanannya terjamin. Namun, tetap ada beberapa perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca.

Mulai dari platform atau teknologi pengembangan vaksin, data efikasi, keluhan efek samping, hingga jarak pemberian dosis. Berikut penjelasan beda vaksin Sinovac vs AstraZeneca seperti dirangkum detikcom dari berbagai sumber:


1. Teknologi pembuatan

Vaksin Sinovac

Platform atau teknologi pengembangan vaksin Sinovac dan AstraZeneca berbeda. Vaksin Sinovac memanfaatkan virus SARS-COV-2 yang telah dimatikan (inactivated) untuk memicu respons imun. Metode ini sudah terbukti manjur dan telah digunakan dalam pengembangan vaksin lain, seperti vaksin flu dan vaksin polio.

Vaksin AstraZeneca

Sementara vaksin AstraZeneca menggunakan virus adeno hidup (adenovirus) yang telah dimodifikasi sebagai 'pengirim' protein khusus. Protein tersebut akan menginstruksikan sel tubuh untuk memproduksi sebagian kecil dari virus Corona yang kemudian memicu respons imun.

Adenovirus sendiri dikenal sebagai virus yang tidak berbahaya.

"Pada vaksin viral vector, virus yang tidak berbahaya ini akan masuk ke dalam sel di tubuh kita lalu mengirim instruksi pembuatan sebagian kecil virus penyebab COVID-19. Bagian tersebut merupakan protein mirip paku (spike protein) yang ditemukan pada permukaan virus COVID-19," tulis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

"Sel kemudian menampilkan protein ini, lalu sistem imun kita mengenalinya sebagai benda asing. Ini akan memicu sistem imun menghasilkan antibodi dan sel-sel imun lainnya untuk melawan apa yang dianggap sebagai infeksi," lanjut CDC.

2. Efikasi

Vaksin Sinovac

WHO menyebut vaksin Sinovac memiliki nilai efikasi mencegah 51 persen kasus COVID-19 bergejala pada orang berusia 18 tahun ke atas. Vaksin juga bisa mencegah kasus rawat di rumah sakit sampai 100 persen pada populasi penerima yang diteliti.

Sementara riset yang dilakukan oleh Indonesia menemukan efikasi vaksin Sinovac mencapai sekitar 65 persen.

Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca disebut WHO 63,09 persen efektif dalam mencegah kasus COVID-19 bergejala. Selain itu, AstraZeneca juga menyebut vaksin Corona buatannya 100 persen efektif mencegah penyakit parah karena COVID-19 dan rawat inap.

3. Efek Samping

Vaksin Sinovac

Perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca berikutnya adalah terkait efek samping yang ditimbulkan. Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) menyebut ada sekitar 10.000 laporan KIPI non-serius dan 200 KIPI serius terkait vaksin Sinovac hingga bulan Mei.

Kasus KIPI non-serius meliputi keluhan-keluhan ringan yang tidak membutuhkan perawatan dan bisa sembuh sendiri. Ini meliputi masalah demam, nyeri, mual, dan kelelahan usai divaksinasi.

Sementara KIPI serius adalah keluhan yang sampai membuat pasien dirawat inap. Ketua Komnas KIPI menegaskan seluruh keluhan KIPI serius tertangani dengan baik dan tidak ada pasien yang terbukti meninggal dunia karena vaksin.

Vaksin AstraZeneca

Komnas KIPI menyebut ada sekitar 9.000 kasus KIPI non-serius dan 18 kasus KIPI serius terkait penggunaan vaksin AstraZeneca hingga bulan Mei. Keluhan non-serius yang ditimbulkan vaksin AstraZeneca kurang lebih sama yaitu demam, nyeri, mual, hingga lelah.

Hanya saja untuk vaksin AstraZeneca diingatkan ada risiko terjadinya masalah pembekuan darah. Hal ini terutama terjadi pada penerima vaksin AstraZeneca berusia muda.

4. Rentang dosis

Vaksin Sinovac

Perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang terakhir adalah jeda pemberian dosis pertama dan kedua. Untuk memberikan efek perlindungan optimal, dua dosis vaksin Sinovac diberikan dalam rentang 28 hari atau tiga minggu.

Vaksin AstraZeneca

Perbedaan lain antara vaksin Sinovac vs AstraZeneca adalah vaksin AstraZeneca dosis kedua diberikan dalam rentang waktu 12 minggu atau sekitar tiga bulan. Perbedaan rentang waktu ini berdasarkan hasil studi yang melihat kapan pemberian dosis vaksin memberikan hasil efikasi terbaik.

"Interval antara 8-12 minggu berkaitan dengan efikasi vaksin yang lebih baik," tulis WHO.



Simak Video "Suntikan Ketiga Vaksin Sinovac Diklaim Tingkatkan Imun 20 Kali Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)