Selasa, 15 Jun 2021 15:30 WIB

Satgas Jawab Desakan PSBB Ketat di Tengah Lonjakan Corona Indonesia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sebanyak 34 warga di RW 3 Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta, positif virus Corona. Saat ini, Satgas COVID-19 telah melakukan karantina mikro (lockdown terbatas) di RW tersebut. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Corona di Indonesia mencatat peningkatan kasus yang signifikan, beberapa hari terakhir di atas 7 ribu kasus. Pakar epidemiolog mendorong pemerintah menerapkan kebijakan atau pengetatan yang lebih ketat dan luas untuk menekan kasus COVID-19.

Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan banyak pertimbangan saat membuat kebijakan tertentu khususnya terkait pandemi COVID-19. Pasalnya, menurut Wiku, sektor kesehatan tak bisa dipisahkan dengan sektor lainnya seperti sosial kemasyarakatan.

"Layaknya siklus yang saling bersinggungan, lonjakan kasus yang terjadi di beberapa daerah sudah sepatutnya dijadikan pelajaran bagi daerah tersebut maupun daerah lainnya untuk mengevaluasi pengendalian COVID-19 di tingkat komunitas agar kenaikan kasus dapat dicegah untuk menjadi lebih besar," kata dia dalam konferensi pers Selasa (15/6/2021).

"PPKM mikro adalah kebijakan yang dibuat untuk dapat mengendalikan kasus covid-19 di hulu atau akar masalah yaitu komunitas secara lebih tepat sasaran," sambungnya.

Alih-alih kembali menerapkan PSBB ketat, PPKM miko dinilai Wiku cukup efektif menekan kasus Corona jika dijalankan dengan benar. Seperti pengetatan atau mikro lockdown di masing-masing wilayah jika didapati lonjakan kasus COVID-19.

Pembatasan disebut Wiku tentu akan meluas jika wilayah yang terdampak semakin banyak. Maka dari itu, ia menghimbau untuk setiap pemerintah daerah memantau zonasi masing-masing wilayah.

"Oleh karena itu fokus saat ini adalah mengoptimasi posko-posko yang telah terbentuk di masing-masing wilayah desa atau kelurahan yaitu menegakkan kembali pengendalian COVID-19 sesuai dengan zonasi RT, RW, setempat," kata dia.



Simak Video "Kasus Corona di Indonesia Meningkat, DKI Jakarta Naik 300%"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)