Minggu, 27 Jun 2021 18:39 WIB

Heboh Lagi Soal Vaksin COVID-19 Picu Fenomena ADE, Ini Bantahan Pakar IDI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi massal di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (26/6/2021). Pemprov DKI Jakarta menggelar program Vaksinasi COVID-19. (Foto ilustrasi: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta -

Informasi bahwa vaksin COVID-19 memicu fenomena Antibody Dependent Enhancement (ADE) kembali beredar belakangan ini. Fenomena ini disebut-sebut bisa memicu virus menjadi ganas pasca vaksinasi. Tak heran jika beberapa orang jadi takut vaksin karenanya.

Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 Pengurus Besar (PB) IDI, Iris Rengganis, dengan tegas membantah hal tersebut. Ia meluruskan, vaksin COVID-19 jenis apapun tidak terbukti mengandung ADE.

"Pada vaksin COVID-19 tidak ditemukan ADE, yang ada pada vaksin dengue atau demam berdarah. Untuk yang beredar saat ini mulai dari Sinovac, Sinopharm, Cansino, yang akan masuk, Sputnik AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan lainnya yang ada di dunia semua tidak ada ADE-nya," kata Prof Iris, dikutip dari CNNIndonesia.

Pernyataan serupa juga sempat dijelaskan Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Prof Kusnandi Rusmil. Menurutnya, sejauh ini fenomena ADE tak terbukti terjadi pada vaksin COVID-19.

"ADE ini adalah fenomena yang terjadi kalau kuman penyakitnya itu mempunyai antigen lebih dari satu. Kan kalau dari virus COVID ini antigennya satu," kata Kusnandi dalam konferensi pers Kelanjutan Uji Klinis Vaksin Covid-19 pada Rabu (21/10/2020).

"Penelitian antigen untuk virus ini sudah dicoba dalam uji praklinik dan sudah diperiksa juga. Dalam COVID ini tidak terjadi ADE," sambungnya.

Ditegaskan, fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV pun juga hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).



Simak Video "Epidemiolog Jelaskan soal Heboh Turunnya Efikasi Vaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)