Selasa, 06 Jul 2021 06:28 WIB

Pakar AS Sebut RI Butuh Bantuan Global Atasi COVID-19, Setuju Nggak?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Terhitung sudah 6 bulan sejak pemerintah mengumumkan kasus Corona pertama di Indonesia pada 2 Maret lalu. Kini, Per 2 September angka kasus positif COVID-19 telah mencapai 180 ribuan jiwa. Sejumlah petugas mengubur jenazah COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu (2/9/2020). Menurut petugas akhir-akhir ini aktivitas penguburan meningkat. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Dr Faheem Younus, seorang pakar penyakit menular dari University of Maryland Upper Chesapeake Health, Amerika Serikat belakangan tengah hits di media sosial, menyoroti kasus COVID-19 di Indonesia. Tanggapan teranyar menurutnya, Indonesia memerlukan bantuan dunia untuk memerangi ledakan COVID-19.

"Ini bukan Brasil atau India atau Italia. Ini Indonesia. Sebuah negara berpenduduk 270 juta orang yang diam-diam terkena 'amukan' COVID-19. Sistem kesehatan kolaps. Butuh intervensi global yang mendesak untuk melawan bencana yang sedang berlangsung," cuitnya dalam akun Twitter pribadi, dikutip Senin (5/7/2021).

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman ikut menanggapi unggahan tersebut. Menurutnya, apapun penyakit yang mewabah menjadi pandemi memang perlu kerjasama antarnegara, bukan hanya persoalan COVID-19.

"Pandemi itu dalam mengatasi wabah, apapun wabahnya bukan hanya COVID-19, memang tidak ada yang bisa mengatasi sendiri, perlu kolaborasi antarnegara baik itu bilateral," sebutnya.

Dicky yang juga sempat mengepalai kerjasama bilateral di Kemenkes RI, menjelaskan bantuan dari dunia kepada Indonesia bukan pertanda negara lemah. Di tengah membludaknya pasien COVID-19 dan keterbatasan alat kesehatan, situasi kritis bisa teratasi dengan cepat jika ditambah bantuan antarnegara seperti vaksin, hingga stok oksigen.

"Namanya kolaborasi global itu penting banget, membantu kita keluar dari situasi kritis. Jadi situasi negara membutuhkan bantuan internasional, bukan berarti negara itu lemah," lanjutnya.

"Dan kalau konteks indonesia saat ini kita harus menyadari harus terbuka dalam bantuan internasional. Terutama katakanlah bantuannya vaksin, stok vaksin, atau oksigen yang tahu pemerintah ini berapa banyak nih oksigen," sambungnya.

Dicky mengaku yakin pemerintah bisa mengatasi wabah COVID-19 jika mulai transparan, dan melakukan pengendalian pandemi sebaik mungkin dengan melibatkan keseriusan semua pihak.

Setujukah jika Indonesia membuka diri terhadap intervensi global? Sampaikan pendapat di komentar ya.



Simak Video "DKI Jakarta Peringkat 47 Kota Respons Covid-19 Terbaik Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)