Rabu, 07 Jul 2021 14:10 WIB

Mengenal Avigan, Obat Terapi COVID-19 yang Harganya Sudah Diatur Kemenkes

Firdaus Anwar - detikHealth
ilustrasi obat Harga Avigan sempat melambung di tengah lonjakan kasus COVID-19. (Foto: iStock)
Jakarta -

Avigan adalah nama merek obat dengan kandungan bahan aktif favipiravir. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat ini diketahui sudah memberikan izin darurat penggunaan obat Avigan untuk terapi pasien COVID-19.

Dalam beberapa hari terakhir muncul laporan obat Avigan 200 mg banyak dicari di tengah lonjakan kasus COVID-19. Hal ini membuat harga obat Avigan melambung tinggi sampai akhirnya mendorong pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) lewat Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.1.7/Menkes/4826/2021.

Harga obat Avigan 200 mg dipatok tidak boleh melebihi Rp 22.500. Bila ada pihak yang ketahuan menjual harga Avigan lebih dari itu maka ada ancaman hukuman pidana penjara dan denda.

Sejarah Avigan

Avigan sendiri sebetulnya adalah obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Jepang Toyama Chemical. Avigan awalnya dikembangkan sebagai obat influenza karena sifatnya yang bekerja dengan menghambat akitivitas virus di dalam tubuh.

Hanya saja Avigan kala itu tidak digunakan secara luas karena diketahui memiliki efek samping serius. Dikutip dari Financial Times, salah satu efek samping obat Avigan yang dilaporkan adalah menimbulkan kecacatan pada bayi baru lahir.

Avigan juga sempat dipakai sebagai obat eksprimental saat muncul wabah virus Ebola yang ganas di Afrika Barat tahun 2014-2016. Sampai kemudian digunakan oleh para dokter China untuk menghadapi wabah COVID-19 dan diimpor oleh Indonesia pada pertengahan tahun 2020.

"Obat ini sudah dicoba oleh satu, dua, tiga negara dan memberikan kesembuhan. Yaitu Avigan. Kita telah mendatangkan 5.000, akan kita coba dan dalam proses pemesanan dua juta," kata Presiden Joko Widodo saat mengumumkan upaya memesan obat terapi COVID-19 pada 20 Maret 2020 lalu.

Viral resep obat Avigan

Di tengah lonjakan kasus COVID-19, beredar pesan viral yang merekomendasikan konsumsi obat Avigan untuk pasien COVID-19. Hal ini berimbas membuat warga berbondong-bondong ke apotek untuk memborong Avigan tanpa resep dokter.

"Iya banyak yang nyari obat itu. Kalo di apotek sini boleh beli bebas tapi sekarang lagi kosong. Kalo apotek lain mungkin harus pake resep," pengakuan salah seorang apoteker di kawasan Rajawali, kota Bandung.

BPOM kembali mengimbau agar warga tidak sembarangan membeli dan mengonsumsi obat antivirus seperti Avigan. Alasannya beragam obat yang digunakan dalam terapi COVID-19 merupakan jenis obat keras berisiko efek samping serius.

Praktisi kesehatan dr Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, SpGK dalam perbincangan dengan detikcom mengaku tidak habis pikir dengan perilaku 'panic buying' semacam itu. Ia sendiri tidak yakin produk-produk suplemen dan obat langka di pasaran semata-mata karena dikonsumsi akibat jumlah kasus COVID-19 memang sedang sangat tinggi.

Menurut dr Raissa, langkanya stok obat dan suplemen juga menjadi perbincangan di kalangan dokter. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang beneran butuh perawatan, mereka jadi kesulitan mencari.

"Bahkan sampai antivirus yang dipakai buat COVID, itupun habis. Trus kita mau kasih pasien apa gitu kan," tutur dr Raissa.

"Kalau memang habisnya dipakai buat orang yang memang sakit gitu kan, ya oke. Tapi kalau habisnya terus dijual lagi harganya dinaikin 3 kali lipat gitu kan, kayaknya tega banget gitu ya," pungkasnya.



Simak Video "Cerita Warga Depok Kesulitan Cari Obat Corona, Harga Naik Berkali Lipat"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)