Selasa, 20 Jul 2021 08:03 WIB

RI Disorot Jadi Episentrum COVID-19 Dunia, Kemenkes Buka Suara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) angkat bicara soal Indonesia dinilai menjadi episentrum COVID-19 dunia. Ia menepis penilaian tersebut dengan dalih Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak pernah mengungkap suatu negara menjadi episentrum COVID-19.

"Jadi WHO tidak pernah mengatakan sebuah negara episenter penyebaran COVID-19, bahkan varian saja dari nama negara, angka lalu huruf yunani," jelas dr Nadia kepada detikcom Senin (19/7/2021).

Alih-alih ditetapkan sebagai episentrum COVID-19, dr Nadia menjelaskan kegawatan situasi setiap negara didefinisikan dengan level transmisi atau penularan COVID-19 di masing-masing negara. Berdasarkan pedoman WHO, dijelaskan dalam situational level 0 hingga 4.

Penilaian tersebut yang juga diterapkan di Indonesia. Maka dari itu, ia kembali menegaskan pernyataan Indonesia sebagai episentrum COVID-19 dunia keliru dan tidak berdasarkan pernyataan WHO.

"Tingkat kegawatdaruratan WHO dijelaskan dalam situational level 0-4 yang diadopsi menjadi transmisi komunitas 0-4 di Indonesia," tutur dr Nadia.

"Panduan penyesuaian respons kesehatan masyarakat dan mobilitas tersebutlah yang menjadi ukuran penerapan PPKM darurat di Jawa Bali dan 15 kab/kota di luar Jawa Bali. Jadi istilah tersebut tidak pernah digunakan WHO," pungkas dr Nadia.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu dr Nadia menyebut seluruh provinsi Jawa dan Bali berada di level 4 transmisi komunitas kasus COVID-19. Artinya kasus penularan Corona sangat tinggi.

Sebelumnya, media asing ramai-ramai menyoroti Indonesia sebagai episentrum COVID-19 dunia baru. Misalnya, laporan yang dimuat surat kabar Amerika Serikat yaitu The New York Times berjudul The Pandemic Has a New Epicenter: Indonesia.

Menurut mereka, catatan infeksi harian COVID-19 dan kasus kematian sudah melampaui India dan Brasil. Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman juga pernah mengutarakan hal serupa.

"Kita sekarang sudah menjadi epicentrum di Asia, bahkan menurut saya, sudah di dunia karena namanya epicentrum itu adalah negara, wilayah, yang memiliki kasus pertambahan kasus aktif paling tinggi pada hari itu, pada waktu itu," jelas Dicky kepada detikcom Kamis (15/7/2021).

(naf/up)