Rabu, 21 Jul 2021 15:58 WIB

Obat COVID-19 untuk Pasien Isoman Direvisi, Obat-obat Ini Tidak Wajib Lagi

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tingginya kasus Corona (COVID-19) di Indonesia membuat permintaan obat-obatan dan vitamin meningkat. Warga rela antre ke apotek demi membeli kebutuhan. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Berdasarkan revisi obat COVID-19 dalam Protokol Tatalaksana COVID-19 oleh lima organisasi profesi, Azithromycin dan Oseltamivir tidak lagi direkomendasikan sebagai terapi utama COVID-19, khususnya untuk pasien isoman. Apa alasannya? Lantas, berbahayakah jika obat-obatan tersebut tetap dikonsumsi pasien COVID-19?

Guru besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr apt Zullies Ikawati menyebut revisi rekomendasi obat adalah hal wajar yang disebabkan oleh perkembangan bukti-bukti klinis baru seiring penggunaan obat, khususnya pada COVID-19, yang hingga kini belum ada obat yang terbukti ampuh menyembuhkan pasien.

Dalam protokol tata laksana COVID-19 disebutkan, Oseltamivir bukan obat COVID-19. Obat ini hanya diberikan jika terdapat kecurigaan ko-infeksi influenza pada pasien COVID-19.

"Oseltamivir diberikan secara empiris pada masa awal pandemi COVID-19 karena sulitnya membedakan gejala pasien COVID-19 dan pasien yang terinfeksi virus influenza. Saat ini Oseltamivir dapat ditambahkan pada pasien dengan COVID-19 dan diduga terinfeksi virus influenza dengan dosis 2 x 75 Mgo," terang Prof Zullies kepada detikcom, Kamis (15/7/2021).

Efek sembarangan minum Azithromycin

Dalam revisi obat COVID-19 disebutkan, Azithromycin kini hanya perlu diberikan kepada pasien COVID-19 suspek kasus berat dan kritis, dengan kecurigaan ko-infeksi dan mikroorganisme.

Dalam kesempatan lainnya, dokter penyakit menular asal AS, dr Faheem Younus menjelaskan, antibiotik seperti Azithromycin adalah obat untuk bakteri, bukan virus sebagaimana penyebab COVID-19 (virus Corona). Menurutnya, 93 persen pasien COVID-19 tidak membutuhkan obat ini. Jika digunakan secara sembarangan, justru bisa menyebabkan resistensi.

"Masalah penggunaan antibiotik adalah, ketika ini menimbulkan semacam efek samping. Jadi Anda akan mengalami masalah B di atas masalah A (yaitu) ketika Anda berhenti mengkonsumsi antibiotik, Anda tidak bisa mengenali mana efek samping antibiotik dan mana gejala COVID-19," terangnya dalam diskusi daring, Sabtu (17/7/2021).

"Ketika Anda mengkonsumsi terlalu banyak (obat antibiotik), itu bisa menimbulkan resistensi. Artinya, ketika Anda membutuhkan antibiotik untuk membunuh bakteri 2 tahun ke depan, obat itu tidak akan bekerja," lanjut dr Faheem.

COVID-19 bisa sembuh tanpa obat

Prof Zullies menambahkan, pada dasarnya, COVID-19 adalah penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat, selama pasien tidak memiliki riwayat penyakit berat tertentu.

Yang penting, pasien mengupayakan penguatan daya tahan tubuh dan rutin memantau kondisi fisik. Misalnya, dengan mengecek saturasi oksigen menggunakan oximeter.

"Penyakit ini kan penyakit karena virus, yang sebetulnya sih bisa sembuh sendiri kayak flu. Itu kan bisa sembuh sendiri, sehingga yang harus dikuatkan adalah sistem imun," terang Prof Zullies.

"Untuk menguatkan sistem itu kan banyak cara. Di samping menggunakan vitamin, itu juga dari makanan yang sehat, istirahat yang cukup, kemudian berjemur untuk mendapatkan tambahan vitamin D. Kemudian jangan cemas karena cemas bisa mempengaruhi sistem imun," pungkasnya terkait revisi obat COVID-19 seperti Oseltamivir yang sempat marak diborong.

Simak video 'Larangan Keras BPOM soal Promosi Ivermectin sebagai Obat COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/kna)