Kamis, 22 Jul 2021 14:47 WIB

Bergejala, Tapi Obat Isoman Gratis Kemenkes Tak Kunjung Tiba? Ini Saran IDI

Vidya Pinandhita - detikHealth
Petugas menyiapkan obat COVID-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021). Mulai hari ini, Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/hp. Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Beberapa pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri (mandiri) mengeluh tak kunjung menerima kiriman paket obat gratis pemerintah. Bahkan, notifikasi WhatsApp dari Kementerian Kesehatan tak kunjung tiba meski sudah melakukan tes PCR di laboratorium afiliasi sesuai syarat.

Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih menyebut, pasien COVID-19 isoman perlu menjalani perawatan nonmedis dan medis. Pada perawatan nonmedis, diperlukan isolasi dan daya tahan tubuh.

Pada perawatan medis, pasien memerlukan suplementasi vitamin yang umumnya bisa diperoleh secara bebas. Namun pada kondisi bergejala, pasien mungkin memerlukan obat-obatan tertentu yang tak boleh sembarang dibeli dan diminum.

"Kalau yang bergejala ya ada tambahan. Biasanya adalah antivirus, antibiotik, obat gejala misalnya panas dikasih obat panas. Dalam kondisi melakukan penanganan baik medical atau non, kawan-kawan ini butuh pendamping untuk diarahkan, terutama terapi yang berkaitan dengan medical meskipun bukan obat keras," kata dr Daeng dalam diskusi daring, Kamis (22/7/2021).

Harus apa jika pasien isoman bergejala tak kunjung dapat paket obat Kemenkes?

Menurutnya, pada kondisi inilah amat penting untuk pasien mendapatkan pengawasan tenaga kesehatan (nakes), misalnya melalui layanan telemedisin. Dengan pengawasan inilah, pasien bisa mengetahui langkah yang harus dilakukan jika tak kunjung menerima paket obat Kemenkes.

Misalnya, pasien bisa mengonsultasikan gejalanya pada dokter di layanan telemedisin, kemudian minta resep agar jenis obat yang tepat bisa diperoleh di toko offline.

"Kalau masyarakat terhubung, minimal dengan dokter salah satunya melalui aplikasi telemedis, maka dokter bisa membantu misal dia tidak mendapat obat program pemerintah, dokter akan berikan arahan tolong saya resepkan, saya kirim ke Anda (pasien), mohon keluarga Anda untuk mencari di tempat pelayanan yang tatap muka atau apotek itu bisa dilakukan," ujar dr Daeng.

"Resepnya ditulis secara betul, kemudian difoto, dikasihkan ke keluarga pasien itu sangat membantu meskipun itu tidak terlalu lumrah dalam kondisi normal, tapi ini kondisi emergency," lanjutnya.

Ia menyayangkan, sejumlah pasien terlambat atau bahkan sama sekali tak menerima bantuan paket obat. Namun dalam kondisi darurat, dr Daeng menegaskan, konsultasi online ini bisa diupayakan sebagai langkah pertama.

"(Jika) ada hal-hal emergency, masyarakat kebetulan tidak kebagian atau misal belum datang obat yang program bantuan pemerintah, itu bisa dibantu diberikan arahan seperti itu kalau terhubung dengan dokter," pungkas dr Daeng.



Simak Video "Selain Ketersediaan Obat, Warga Keluhkan Penanganan Puskesmas Kurang Maksimal"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)