Jumat, 23 Jul 2021 13:33 WIB

Drama Paket Isoman COVID-19 Gratis: Sudah Keburu Sembuh, Obat Baru Datang

Vidya Pinandhita - detikHealth
ilustrasi minum obat Ilustrasi obat. (Foto: iStock)
Jakarta -

Beberapa pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri mengeluhkan lamanya pengiriman paket obat isolasi mandiri (isoman) gratis dari pemerintah. Padahal, prosedur yang diinformasikan sudah diikuti dengan benar, termasuk melakukan tes PCR di laboratorium afiliasi.

Ada yang bahkan tidak kunjung mendapat notifikasi WhatsApp, ada juga yang akhirnya mendapat kiriman paket obat tetapi sudah terlalu lama berselang sehingga tidak lagi dibutuhkan.

Salah satunya dialami oleh Fahrian, pasien COVID-19 yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Ia mendapatkan paket obat isoman gratis tersebut setelah mengisi form di layanan Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) beberapa pekan sebelumnya.

"Paket obat yang didapat ternyata cuman vitamin C, ada 4 lembar. Daftar (Pikobar) tanggal 8 Juli, paket obat dari Pikobar sampai rumah 22 Juli (2021)," ujarnya pada detikcom, Jumat (23/7/2021).

Awalnya, Fahrian mengalami gejala kehilangan kemampuan mencium (anosmia), flu, dan demam. Menurutnya, gejala yang ia alami termasuk ringan lantaran ia sudah menerima vaksin COVID-19.

Setelah dinyatakan positif, Fahrian langsung mengisi form Pikobar, mengikuti informasi dari orang-orang sekitar terkait kiriman obat gratis. Namun dalam kondisi paket tak kunjung sampai, kondisi fisiknya membaik.

Pada Selasa (20/7/2021), Fahrian dinyatakan negatif COVID-19, sementara paket vitamin baru tiba kemarin, Kamis (22/7/2021). Itu pun hanya vitamin tanpa obat.

"(Sekarang) sudah tes lagi dan hasilnya negatif. Tapi masih masa pemulihan karena masih anosmia. Penciuman dan lidah perasa masih belum berfungsi. Stamina juga masih belum pulih, gampang capek," imbuhnya.

Tak menunggu kiriman paket pemerintah, Fahrian sudah lebih dulu mengonsumsi suplemen vitamin yang ia suplai sendiri.

"Nggak apa-apa. (Vitamin dari pemerintah) disimpan saja. Buat stok," pungkasnya.

Pengalaman lainnya dialami oleh Alief, pria asal Depok, Jawa Barat. Tak kunjung menerima notifikasi WhatsApp dari Kemenkes meski sudah PCR di laboratorium berafiliasi, Alief berinisiatif mengisi form Pikobar pada 16 Juli 2021. Ia berharap, bisa dapat obat dan vitamin lantaran ia mengalami gejala demam, pusing, dan pegal-pegal.

Namun sama seperti Fahrian, Alief hanya menerima kiriman vitamin tanpa obat pada 20 Juli 2021. Paket tersebut berisi 4 strip vitamin.

"Ya aku sih berharapnya di dalam paket obat itu ada obat. Walaupun memang belakangan, katanya (obat) nggak terlalu penting. Bahkan teman dan dokter di komplek aku juga bilang, oseltamivir nggak terlalu penting," beber Alief pada detikcom, Kamis (22/7/2021).

"Cuma kan sebagai pasien yang baru terpapar, pada saat itu panik nih. Obat mana saja yang boleh," sambungnya.

Seperti Fahrian, kondisi Alief kini sudah membaik meski tak sempat minum vitamin kiriman pemerintah. Ia menyebut, gejala yang tersisa tinggal batuk, selebihnya sudah hilang.



Simak Video "Selain Ketersediaan Obat, Warga Keluhkan Penanganan Puskesmas Kurang Maksimal"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)