Jumat, 23 Jul 2021 17:30 WIB

Jejak Kontroversi Vaksin Nusantara Besutan Eks Menkes Terawan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Viral narasi vaksin Nusantara diakui dunia. Narasi tersebut muncul seiring dengan pernyataan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto soal vaksin dendritik besutannya sudah dimuat dalam jurnal internasional Pubmed.

Faktanya, menurut peneliti vaksin dan doktor di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Adelaide Australia, dr Ines Atmosukarto, jurnal tersebut bukan memuat laporan penelitian vaksin dendritik Nusantara.

"Jadi sifatnya spekulatif tidak didukung pembuktian," kata dr Ines, dikutip dari turnbackhoax.

Sejak muncul di publik, vaksin Nusantara kerap menuai kontroversi. Terlebih saat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan beberapa catatan riset tidak sesuai kaidah klinis. Berikut rangkumannya.

Laporan hasil uji klinis pertama

Laporan uji klinis I vaksin Nusantara diungkap ke media 16 Februari lalu. Terawan yang memprakarsai pengembangan vaksin dendritik ini mengklaim hasil Fase I menunjukkan imunitas yang baik dan aman pada pasien COVID-19.

"Uji klinis I yang selesai dengan hasil baik, imunitas baik dan hasil safety. Kan uji klinis I mengontrol safety dari pasien. Dari 30 pasien imunogenitasnya baik," jelasnya.

Proses disebut bermula pada 12 Oktober 2020 yaitu penetapan Tim Penelitian Uji Klinis Vaksin Sel Dendritik oleh Kemenkes KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020.

BPOM masih mengevaluasi uji klinis pertama

"Kami baru menerima hasil uji klinik fase I-nya, jadi masih dievaluasi oleh timnya direktur registrasi dari BPOM dengan tim ahli untuk kelayakannya apakah bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji Fase II-nya ya karena hasil dari Fase I-nya baru kami terima," jelas Penny K Lukito Kepala BPOM.

Teknologi dendritik diragukan

Beberapa pakar meragukan teknologi yang dipakai vaksin Nusantara yaitu dendritik. Misalnya, ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Erni Juwita Nelwan, SpPD, mengatakan vaksin teknologi sel dendritik sangat rumit dipakai untuk vaksin COVID-19.

"Tetapi kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuwan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal, itu dari sisi manufacturingnya, pembuatannya," kata dr Erny beberapa waktu lalu.

Diklaim picu antibodi seumur hidup

Terawan juga mengklaim vaksin Nusantara bisa memicu antibodi seumur hidup. Hal ini langsung dibantah Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Profesor Zubairi Djoerban dengan menegaskan belum ada bukti lebih lanjut terkait berapa lama antibodi pasca vaksinasi bertahan.

"Vaksin Nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya?" cuitnya dalam akun Twitter pribadi @ProfesorZubairi, dikutip atas izin yang bersangkutan, Jumat (19/2/2021).

Simak kontroversi lainnya selain klaim 'vaksin Nusantara diakui dunia' di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3