Minggu, 25 Jul 2021 14:30 WIB

Efikasi Vaksin Pfizer di Negara Ini Turun Jadi 39 Persen, Ada Apa?

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Vaksin Pfizer. (Foto: AP/Oded Balilty)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 Pfizer di Israel ternyata memiliki efikasi hanya 39% akibat varian Delta menjadi strain yang dominan. Meski demikian, Kementerian Kesehatan Israel menyebut vaksin Pfizer masih memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah dan rawat inap.

Dikutip dari CNBC International, (25/7/2021) angka efikasi yang dilaporkan itu menurun dari data antara 20 Juni dan 17 Juli pada jumlah orang yang tidak ditentukan yakni sekitar 64%.

Tingkat efikasi ini juga berbeda dengan data yang dikeluarkan Inggris yakni vaksin Pfizer dan BioNtech memiliki efikasi sebesar 88% melawan gejala yang disebabkan varian baru.

Di sisi lain, vaksin dua dosis masih bekerja sangat baik dalam mencegah orang sakit parah, menunjukkan efektivitas 88% terhadap rawat inap, dan efektivitas 91% terhadap penyakit parah.

"Kita harus berhati-hati bahwa seiring waktu, efektivitas vaksin ini mungkin berkurang," kata Dr. Isaac Bogoch, profesor penyakit menular di University of Toronto.

Dia menekankan bahwa vaksin masih sangat efektif dalam mencegah infeksi parah, membantu sistem rumah sakit tidak terlalu kewalahan.

Ia juga menekankan bahwa ada kemungkinan masyarakat memerlukan booster sehingga semua pihak harus sigap dan gesit menghadapinya.

"Kita masih di era Covid dan apa pun bisa terjadi," katanya.

Varian delta telah menyebar ke lebih dari 104 negara. Pejabat kesehatan di AS juga mengkhawatirkan varian yang pertama kali ditemukan di India ini.

Sebab, ada lebih banyak infeksi, termasuk infeksi pada orang yang telah divaksinasi lengkap meski menunjukkan gejala ringan.

Kepala petugas medis Gedung Putih Dr Anthony Fauci mengatakan, orang yang divaksinasi lengkap mungkin ingin mempertimbangkan untuk memakai masker di dalam ruangan sebagai tindakan pencegahan terhadap varian yang menyebar dengan cepat di AS.

Pakar kesehatan khawatir saat musim gugur, varian Delta diperkirakan akan memukul negara bagian dengan tingkat vaksinasi terendah yang paling sulit.

"Virus ini jelas berbeda dari virus dan varian yang pernah kita alami sebelumnya. Ia memiliki kemampuan luar biasa untuk menular dari orang ke orang."

Dr. Paul Offit, penasihat FDA tentang vaksin Covid, mengatakan meski vaksin masih memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap penyakit parah dan kematian, vaksin tersebut mungkin tidak bekerja dengan baik terhadap kasus ringan atau menyebarkan penyakit ke orang lain.

Dia mendesak lebih banyak orang Amerika untuk divaksinasi, dengan mengatakan Delta adalah virus yang sangat menular dan suntikan akan membantu orang dari sakit parah. Saat ini, kurang dari setengah populasi AS yang sepenuhnya divaksinasi, menurut data yang dikumpulkan oleh CDC.



Simak Video "Efikasi Vaksin Pfizer untuk 16 Tahun ke Atas Capai 100 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)