Minggu, 01 Agu 2021 20:54 WIB

Frustrasi Saat Jagoan Kalah Bertanding, Inikah yang Terjadi di Otak?

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Anthony Sinisuka Ginting gagal ke final bulutangkis Olimpiade Tokyo 2020. Anthony dipaksa mengakui keunggulan Chen Long dua gim langsung 16-21, 11-21. Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Jagoan kalah dalam sebuah pertandingan olahraga kerap membuat perasaan tidak keruan. Sedih, kecewa, dan kadang sampai frustrasi. Apa yang sebenarnya terjadi di otak?

Saat menonton pertandingan badminton atau pertandingan olahraga lainnya, kita cenderung mudah ikut frustrasi saat atlet atau tim favorit gagal mencetak poin atau berteriak histeris jika berhasil mendapatkan angka di detik-detik terakhir pertandingan.

Para peneliti menjelaskan, rasa kekecewaan, senang, terlalu bersemangat atau frustrasi yang dirasakan saat menonton pertandingan bukan terjadi secara kebetulan atau sekadar imajinasi. Berikut di bawah ini 3 hal yang terjadi di otak saat menonton pertandingan olahraga.

1. Merasa menjadi bagian dalam tim

Selama menonton pertandingan olahraga, kita akan berteriak frustrasi saat tim idola nyaris mendapatkan score atau ikut melakukan selebrasi ketika atlet sepak bola berhasil mencetak goal. Fenomena ini terjadi akibat adanya sistem saraf cermin (mirror neurons system).

Hal ini dijelaskan oleh David Ezell, seorang konselor profesional berlisensi dan CEO penyedia terapi Darien Wellness. Menurutnya, manusia dewasa memiliki saraf khusus di otak yang disebut saraf cermin. Saraf cermin ini memungkinkan kita untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan membayangkan apa yang mereka alami pada saat tertentu.

"Ketika kita melihat mereka di lapangan, kita mengalami sebagian dari perasaan yang mereka alami karena saraf cermin sedang bekerja," kata Ezell.

2. Suasana hati yang dipengaruhi senyawa kimia dalam tubuh

Setelah pertandingan selesai dan atlet atau tim unggulan berhasil pulang membawa medali kita akan merasa senang dan merasakan mood yang lebih baik dibandingkan atlet atau tim kesayangan gagal membawa pulang medali. Suasana hati yang berubah ini dipengaruhi oleh senyawa kimia dalam tubuh, yaitu neurotransmitter. Senyawa kimia ini diproduksi otak untuk mengatur suasana hati yang juga dipengaruhi hormon.

Dr. Richard Shuster, psikolog klinis dan pembawa acara podcast The Daily Helping menjelaskan, saat atlet atau tim kesayangan menang atau bermain dengan baik, otak akan mulai melepaskan neurotransmitter dopamin, yang terlibat dalam mengatur rasa penghargaan dan rasa kesenangan pada otak.

Hal sebaliknya terjadi, saat atlet atau tim dukungan kalah. Maka, otak akan menghasilkan kortisol, yaitu hormon yang diproduksi pada kelenjar adrenal (kelenjar penghasil hormon) yang dilepaskan tubuh saat merasa tertekan atau sedang stres.

"Lebih buruk lagi, jika otak kita mungkin menghasilkan lebih sedikit serotonin (hormon yang memengaruhi suasana hati) yang dapat menyebabkan peningkatan kemarahan dan depresi," kata Shuster.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jangan Mager Olahraga, Dengerin Nih Pesan Liliyana Natsir!"
[Gambas:Video 20detik]