Selasa, 10 Agu 2021 11:43 WIB

ASI pada Ibu Positif COVID-19 Punya Kandungan Antibodi Tinggi

Angga Laraspati - detikHealth
Canggih! Peneliti Klaim Bisa Memproduksi ASI di Laboratorium Foto: Getty Images/iStockphoto/opel_ru
Jakarta -

Satgas ASI Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) Wiyarni Pambudi menyebutkan ibu menyusui yang terkonfirmasi positif COVID-19 tetap bisa memberikan ASI Eksklusif. Bahkan, berdasarkan hasil penelitian ASI pada ibu positif COVID-19 memiliki kandungan antibodi yang tinggi.

''Pada ibu yang terkonfirmasi positif ternyata di dalam ASI nya, mengalir antibodi Imunoglobulin A dan G, mengalir pula Lactalbumin, Lactoferrin dan lain-lain yang secara spesifik merupakan benteng perlawanan terhadap SARS-CoV-2. Inilah yang disebut imunisasi pasif yang alami, yang diberikan ibu penyintas COVID-19 kepada bayinya,'' kata Wiyarni dilansir dari website resmi Kementerian Kesehatan, Selasa (10/8/2021).

Wiyarni menjelaskan antivitas antibodi sIgA spesifik SARS-CoV-2 dan IgG spesifik dalam air susu penyintas COVID-19 mampu bertahan selama 7-10 bulan pasca infeksi.

Selain itu, peningkatan kekebalan tubuh juga ditemukan pada ibu menyusui yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19. Kadar antibodinya juga telah meningkat sejak 14 hari pasca penyuntikan pertama.

''Pada ibu yang telah vaksinasi COVID-19 ditemukan kadar antibodi sIgA spesifik SARS-CoV-2 dalam ASI meningkat pesat dalam waktu 14 hari pasca vaksinasi dosis pertama, semakin kuat setelah minggu ke-4 dan terukur lebih tinggi pada minggu ke-5 dan ke-6,'' terangnya.

Oleh karena itu, Wiyarni berharap agar dukungan dan terhadap ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif terus digalakkan saat pandemi COVID-19. Sebab, selain sebagai sumber makanan utama, ASI penting untuk melindungi bayi dari paparan COVID-19

Dalam dua kondisi tersebut, pihaknya berharap agar dukungan dan semangat terhadap ibu menyusui untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya terus digalakkan terutama saat pandemi COVID-19. Sebab, selain sebagai sumber makanan utama, ASI juga penting untuk melindungi bayi dari paparan COVID-19.

Satgas COVID-19 IDAI mencatat juga hingga akhir Juli 2021 sebanyak 447 anak berusia di bawah 1 tahun meninggal akibat COVID-19, yang 16% di antaranya adalah bayi baru lahir.

Oleh karenanya, aktivitas menyusui tidak boleh terputus kendati ibu menyusui adalah kontak erat maupun telah terkonfirmasi positif COVID-19. ASI tetap dapat diberikan dengan tetap melakukan protokol kesehatan ketat dan tidak mengalami gejala yang berat, jadi ibu masih bisa menyusui langsung.

Tetapi apabila seorang ibu merasa dirinya lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk menyusui langsung, maka bayi dapat diberikan ASI perah (ASIP) baik oleh ibu maupun anggota keluarga yang lain.

''Menyusui tidak boleh terputus apapun status ibu. Apabila kondisinya tidak memungkinkan, ibu yang positif dan dirawat harus didukung agar bisa memerah ASI. Jika ibu masih kuat, lanjutkan dengan tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19,'' urainya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia Entos Zainal menekankan dalam situasi sekarang ini, PERSAGI bersama Kementerian Kesehatan, pemda maupun organisasi non pemerintah aktif memberikan edukasi melalui talkshow, menerjunkan kader-kader untuk memberikan penyuluhan dan pendampingan langsung kepada masyarakat serta menyediakan layanan tele konsultasi untuk memantau kesehatan ibu dan anak.

''Dalam situasi sekarang ini, dukungan yang kami berikan untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI. Karena gangguan psikis bisa mengurangi produksi ASI. Jadi kami dorong kader-kader agar tingkatkan kepercayaan ibu, jadi suasana kebatinannya kita perhatikan betul,'' tuturnya.

Pandemi COVID-19 menjadi tantangan bagi ibu menyusui untuk tetap memberikan ASI kepada buah hatinya. Hal ini turut dipengaruhi oleh status kesehatan ibu, ibu yang meninggal, terbatasnya dukungan serta penurunan jumlah kunjungan ibu menyusui ke faskes seperti Puskesmas maupun Posyandu.

Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kartini Rustandi mengatakan diperlukan dukungan baik dukungan moral, spiritual maupun kebijakan kepada ibu menyusui agar tetap bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayinya apapun status kesehatan sang ibu.

Sebab, menyusui secara signifikan mampu meningkatkan derajat kesehatan, perlindungan maupun kesejahteraan untuk ibu, bayi maupun keluarga.



Simak Video "Solusi untuk Ibu Positif Covid-19 Bila Tak Sanggup Menyusui Bayi"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)