ADVERTISEMENT

Minggu, 15 Agu 2021 18:27 WIB

Jokowi Minta Hasil PCR Maksimal 1x24 Jam, Realistis? Ini Kata Ilmuwan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19. Ilustrasi. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Terkait isu mahalnya pemeriksaan COVID-19 tes polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta agar harga PCR diturunkan hingga kisaran Rp 450-550 ribu. Juga untuk mempercepat pemeriksaan dan memperbanyak jumlah orang diperiksa, ia meminta agar hasil tes PCR dapat keluar dalam waktu 1x24 jam.

"Saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000," ujar Jokowi melalui keterangannya di YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (15/8/2021).

"Selain itu juga saya minta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1x24 jam. Kita butuh kecepatan," pungkas Jokowi.

Berdasarkan pantauan detikcom, di DKI Jakarta misalnya, terdapat beragam laboratorium dengan durasi proses PCR berbeda. Misalnya Ayunda, harus menunggu 2 hari sampai hasil tes PCR dari Puskesmas keluar. Lain cerita dari Nada, hasil tes PCR di sebuah laboratorium swasta di kawasan Tebet memakan waktu kurang dari 24 jam untuk keluar.

Ilmuwan biologi molekuler dari Universitas Yarsi, Ahmad Rusdan Utomo, menjelaskan bahwa kecepatan keluarnya hasil tes PCR bergantung pada teknologi yang digunakan. Selain itu, sejumlah laboratorium berupaya efisien sehingga mesin PCR baru digunakan jika kapasitas sudah full.

"Tes cepat PCR bisa dilakukan dalam kurun kurang dari 3 jam, tapi kapasitasnya rendah di bawah 20 pasien dan harganya mahal. Sementara tes PCR rutin kapasitas running 90 pasien dalam 4 jam. Apabila laboratorium punya 3 mesin, dalam 4 jam bisa running 270 pasien. Namun itu tergantung juga volume sampel yang datang," terang Ahmad pada detikcom, Minggu (15/8/2021).

"Supaya cost effective, PCR running-nya 'menunggu' kapasitas full. Kalau mesin PCR running di bawah kapasitas maka tidak cost effective," lanjutnya.

'Nge-push' hasil PCR jadi 1x24 jam per hari, realistiskah?

Ahmad menjelaskan, laboratorium tes PCR yang kini tersedia tidak sepenuhnya difasilitasi oleh pemerintah, namun ada laboratorium swasta sehingga efisiensi biaya menjadi salah satu faktor cepat-lambatnya keluar hasil tes PCR. Maka itu, kebutuhan akan cepatnya layanan PCR kini bisa menjadi momen untuk mengembangkan industri bioteknologi.

"Dugaan saya, hasil 1x24 jam nampaknya harganya berbeda, mau cepat ya bayar mahal. Jadi tantangan kalau hanya 'di-push' perlu sistem manajemen yang baik, bukan cuma 'ngasal nge-push'," beber Ahmad.

"India saya duga bisa murah karena industri biotek di sana lebih maju daripada Indonesia karena mereka sudah terbiasa untuk menggunakan produk lokal. Walaupun tidak branded, dan didukung oleh pemerintahnya," pungkasnya.



Simak Video "200 Kasus Covid-19 'Ganas' di Beijing Teridentifikasi"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT