Kamis, 19 Agu 2021 17:31 WIB

Makin Kesal, WHO Kecam Negara yang Sediakan Booster Vaksin COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Vaksin Covid-19 Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam negara-negara yang terlalu terburu-buru memberikan booster vaksin COVID-19 kepada warganya. Padahal, masih banyak orang yang belum mendapat satu dosis pun.

Menurut WHO, tindakan pemberian booster vaksin ini tidak bermoral. Pasalnya, masih banyak orang yang menunggu untuk divaksinasi COVID-19.

Direktur Program Darurat Kesehatan WHO, Mike Ryan, membandingkan hal ini seperti memberi jaket pelampung ekstra pada orang-orang yang sudah memakai jaket pelampung dalam skenario kapal tenggelam.

"Kita berencana untuk memberikan 'jaket pelampung' tambahan kepada orang-orang yang sudah memiliki 'jaket pelampung'. Sementara kita membiarkan orang lain tenggelam tanpa 'jaket pelampung'," ucap Direktur Program Darurat Kesehatan WHO, Mike Ryan, dikutip dari The Guardian.

"Realitas mendasar dan etis yang terjadi adalah kita membagikan 'jaket pelampung' kedua sambil meninggalkan jutaan orang tanpa apa pun untuk melindungi diri," sambungnya.

Pada awal bulan ini, Agustus 2021, WHO menyerukan moratorium suntikan ketiga vaksin COVID-19 untuk membantu meringankan ketidaksetaraan drastis dalam distribusi dosis antara negara kaya dan miskin. Namun, ini tidak menghentikan sejumlah negara untuk memberikan booster vaksin kepada warganya, karena mereka sedang berjuang menghadapi virus Corona varian Delta (B1617.2).

Sebelumnya pihak berwenang Amerika Serikat (AS) mengatakan efektivitas vaksin COVID-19 menurun dari waktu ke waktu. Maka dari itu, mereka mengizinkan pemberian booster vaksin kepada warganya mulai 20 September mendatang, dengan syarat delapan bulan setelah seseorang divaksinasi secara lengkap.

Meski demikian, mereka mengatakan vaksin tetap efektif dalam mengurangi risiko sakit parah, rawat inap, dan kematian akibat COVID-19.

Oleh karenanya, para ahli WHO bersikeras bahwa pemberian dosis vaksin kepada negara yang masih tertinggal vaksinasinya jauh lebih penting saat ini, dibandingkan memberikan booster vaksin COVID-19.

"Yang jelas adalah sangat penting untuk memberikan dosis pertama dan melindungi yang paling rentan sebelum booster diluncurkan," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Kesenjangan antara si kaya dan si miskin akan semakin besar jika produsen dan pemimpin memprioritaskan booster vaksin daripada memberikan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," tuturnya.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/fds)