Minggu, 22 Agu 2021 14:04 WIB

Curhat Dokter Wanita Afghanistan yang Dapat Ancaman Dibunuh Taliban

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Members of an internally displaced Afghan family who left their home during the ongoing conflict between Taliban and Afghan security forces arrive from Qala-i- Naw, in Enjil district of Herat, on July 8, 2021. (Photo by Hoshang Hashimi / AFP) Wanita di Afghanistan. (Foto: dok. AFP)
Jakarta -

Sebelas hari yang lalu, dr Akbari berada di kliniknya di kota Mazar-e-Sharif, Afghanistan utara, ketika dia mendapat telepon yang membuatnya membatalkan semua janji temunya.

Ia mendapat telepon dari anggota Taliban yang telah mengancamnya dari selama berbulan-bulan karena dia telah memberikan suntikan KB kepada pengantin muda yang masih berusia 13 tahun.

"Dengan suara tenang ia berkata, 'kami akan memasuki kota. Kami akan segera datang dan menjemputmu," ceritanya kepada NPR.

Meski Taliban berjanji akan mengizinkan perempuan untuk terlibat dalam pemerintahan dan bekerja di sektor-sektor seperti perawatan kesehatan, tapi banyak perempuan mengatakan kenyataan yang ada di lapangan lebih rumit.

Untuk Akbari, yang meminta NPR untuk melindungi identitasnya dengan hanya menggunakan nama belakangnya, masalah dimulai di sana sekitar delapan bulan yang lalu.

Saat itu, gadis 13 tahun itu tiba di kliniknya. Setelah memeriksanya, Akbari mengetahui bahwa gadis itu telah menikah dengan pria yang lebih tua sebagai istri keduanya.

"Dia mengatakan kepada saya bahwa suaminya ingin membuatnya hamil," kata Akbari.

Akbari mengatakan panduan medis dalam situasi ini sudah jelas. Dia adalah seorang anak. Beresiko bagi setiap anak untuk hamil, dan gadis ini juga secara fisik sangat lemah.

Terlebih lagi, gadis itu tidak ingin hamil. Jadi Akbari memutuskan untuk memberi gadis itu suntikan kontrasepsi, yang akan berlangsung selama tiga bulan.

"Dia meminta bantuanku," kenang Akbari.

Suami gadis itu ternyata anggota Taliban

Selanjutnya
Halaman
1 2