Rabu, 25 Agu 2021 22:55 WIB

Gara-gara Hipertensi, Indonesia Jadi Sorotan Dunia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Hipertensi Foto: shutterstock
Jakarta -

Studi global skala besar menemukan orang dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi berusia 30 tahun ke atas mengalami peningkatan dua kali lipat dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet ini menganalisis data dari 1990-2019 pada orang yang berusia 30-79 tahun dari 184 negara. Indonesia juga disorot dalam studi tersebut karena pengobatan hipertensi yang cenderung rendah.

"Kami mendefinisikan hipertensi sebagai pemilik tekanan darah sistolik 140 mm Hg atau lebih besar, tekanan darah diastolik 90 mm Hg atau lebih besar, atau minum obat untuk hipertensi," kata peneliti Majid Ezzati yang juga ahli kesehatan global dari Imperial Collage London dikutip dari CNN.

Hasilnya, jumlah orang dengan tekanan darah tinggi meningkat dua kali lipat dari 648 juta pada 1990 menjadi hampir 1,3 miliar pada 2019. Hampir satu dari 3 laki-laki dan perempuan di dunia berusia 30 tahun ke atas memiliki hipertensi.

Negara maju dan berpenghasilan tinggi memilki prevalensi hipertensi yang rendah. Sebalinya, pada negara berpenghasilan menegah-rendah, angka hipertensi melonjak.

Peneliti juga menemukan mayoritas pengidap hipertensi di dunia tidak mengobati kondisinya. Jika tidak tertangani, tekanan darah tinggi menyebabkan stroke, gagal jantung dan kegagalan organ lain seperti ginjal.

Indonesia masuk dalam kategori perawatan hipertensi yang rendah. Dalam studi tersebut kurang dari 25 persen perempuan dan hanya 20 persen laki-laki pengidap hipertensi yang mengobati kondisinya.

"Tingkat pengobatan kurang dari 25 persen untuk wanita dan kurang dari 20 persen untuk pria di Nepal, Indonesia, dan beberapa negara di Afrika sub-Sahara dan Oseania," tulis peneliti.



Simak Video "KuTips: 5 Tips Biar Kamu Nggak Hipertensi "
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)