Rabu, 25 Agu 2021 19:01 WIB

Heboh Varian Baru 'COVID-22', Ini Klarifikasi Ilmuwan Pencetusnya

Rita Puspita Rachmawati - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. COVID-22 sempat bikin gempar (Ilustrasi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter)
Jakarta -

Sempat viral di media sosial mengenai munculnya istilah Covid-22. Sebagian orang berasumsi bahwa Covid-22 adalah varian lain virus Corona yang akan muncul di tahun 2022. Bagaimana kebenarannya?

Pada kenyataannya, istilah Covid-22 dinilai sebagai frasa yang tidak tepat untuk merujuk pada keadaan wabah virus corona pada tahun 2022.

Covid-22 adalah istilah yang digunakan oleh Profesor Sai Reddy, seorang profesor Sistem dan Imunologi Sintetis di Universitas ETH Zurich. Ia menyebut istilah itu dalam wawancara tentang pandemi dengan surat kabar berbahasa Jerman di Swiss, Blick.

Mengomentari program vaksinasi dan munculnya varian Delta yang menular, Prof Reddy, menurut terjemahan, mengatakan bahwa ini bukan lagi Covid-19. Ia akan menyebutnya Covid-21.

Kemudian, ia mengomentari fase pandemi berikutnya yang dapat membuat varian Beta atau Gamma menjadi lebih menular, atau virus Delta dapat mengembangkan mutasi.

"Itu akan menjadi masalah besar untuk tahun mendatang. Covid-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita saksikan sekarang," katanya.

Pandemi dimulai oleh virus corona baru pada tahun 2019, yang kemudian dinamaiCovid-19. Beberapa orang mengira ProfReddy menyebut akan ada jenis lain tahun depan yang lebih mematikan daripada varian Delta yang sangat menular.

Tidak tepat menyebutnya Covid-22, karena nama resmi dan benar penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 adalah Covid-19Prof Sai Reddy


Padahal sebenarnya dia berbicara tentang bagaimana SARS-CoV-2, yang menyebabkan Covid-19, muncul dan lebih berbahaya pada tahun 2022.

Prof Reddy pun mengklarifikasi komentar wawancaranya untuk meluruskan kebingungan masyarakat.

"Ada beberapa kebingungan tentang apa yang saya maksudkan dalam wawancara saya dengan surat kabar berbahasa Jerman yang berbasis di Swiss, Blick. Tidak tepat menyebutnya Covid-22, karena nama resmi dan benar penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 adalah Covid-19," ujarnya.

Namun, ia tetap percaya jika Covid pada tahun 2022, khususnya awal tahun (Januari - Maret) memiliki peluang lebih buruk dari tahun ini.

Faktor-faktor pendukung pendapatnya ini adalah munculnya varian Delta yang menunjukkan peningkatan transmisi. Selain itu, jumlah orang yang tidak divaksin dan pelonggaran pembatasan menurutnya membuat penularan virus jadi lebih mudah.



Simak Video "Persiapan yang Harus Dilakukan untuk Menuju Endemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(Rita Puspita Rachmawati/up)