Kamis, 26 Agu 2021 11:05 WIB

Bukan Endemi Lagi, Pakar Sebut RI Akan Masuk Fase Hiperendemi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengungkap Corona di Indonesia bakal berakhir menjadi hiperendemi. Hiperendemi terjadi saat penyakit mewabah lebih lama karena respons atau penanganan yang dilakukan belum berhasil menekan atau menghentikan penularan.

"Iya Indonesia kelihatannya akan mengalami long pandemi," ungkap Hermawan saat dihubungi detikcom Kamis (26/8/2021).

Ada beragam faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami hiperendemi. Salah satunya transmisi kasus COVID-19 masih tinggi. Positivity rate rata-rata masih di atas 20 persen, jauh dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 5 persen.

Tidak hanya itu, jumlah tes COVID-19 di Indonesia juga terus menurun. Catatan terakhir per Rabu (25/8/2021) jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 249.265. Di hari sebelumnya lebih rendah dengan catatan 185.852 spesimen.

Padahal, diperlukan tes dan tracing yang masif agar kasus COVID-19 bisa ditemukan lebih dini untuk menyetop penyebaran.

"Kalau saja pandemi itu akan dicabut oleh WHO setelah mengevaluasi pengaruhnya di dunia di berbagai benua dan negara, Indonesia ya potensial terjadi hiperendemi ya," sambung Hermawan.

"Jadi hiperendemi ini maknanya penyakit yang akan bertahan dengan status risiko yang masih tinggi apalagi belum ditemukan obat dan vaksinnya, Indonesia juga belum mampu secara mandiri," kata dia.

Bukan hanya persoalan produksi vaksin secara mandiri, Hermawan juga menyoroti perilaku masyarakat yang tak sedikit mengabaikan protokol kesehatan. Jika terus berlanjut, Indonesia menjadi salah satu negara yang masih berisiko tinggi menghadapi COVID-19 jika status pandemi kemudian dicabut.

"Kita akan melihat apakah WHO akan mengevaluasi istilah pandemi hingga akhir tahun ini, nah begitu WHO mencabut kata pandemi dari COVID-19 maka yang akan terjadi negara-negara yang belum menyelesaikan persoalan COVID-19 itu menghadapi istilah baru, endemi, penyakit yang bertahan di negara-negara tersebut dengan berbagai faktor dan kemungkinan," jelas Hermawan.

"Laju penularannya masih tinggi, kelemahan tes masih terjadi, perilaku yang masih belum disiplin, sumber daya penanganan yang masih terbatas di daerah-daerah, Indonesia potensial memasuki hiperendemi," pungkasnya.

(naf/up)