Rabu, 01 Sep 2021 22:05 WIB

Round Up

Fakta-fakta COVID-19 Varian Mu, Bukan 'Em Yu'

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Colombia coronavirus invasion crisis abstract cover background. Government virus response, action, protection, awareness, threat handling, and prevention. Varian Mu (Foto: Getty Images/iStockphoto/Darryl Fonseka)
Jakarta -

Varian Mu B.1621 menjadi varian terbaru di kategori Variant of Interest (VOI), selevel varian Lambda. Ditemukan pertama kali di Kolumbia, dikhawatirkan lebih kebal vaksin.

Varian ini pertama kali ditemukan di Kolombia pada awal 2021, tepatnya pada Januari lalu. Sebelumnya, kasus varian Mu dilaporkan muncul di sejumlah bagian Amerika Selatan dan Eropa.

Namun, para ahli mengatakan bahwa varian tersebut belum berada pada tingkat mengkhawatirkan seperti varian Delta (B1617.2) dan seharusnya tidak menjadi kekhawatiran.

Secara global varian Mu menyumbang sebagian kecil dari kasus infeksi COVID-19. Hingga saat ini, para ilmuwan masih menyelidiki apakah varian tersebut memiliki sifat atau komponen tertentu yang bisa membobol perlindungan kekebalan yang dibangun oleh vaksin.

Dikutip Abc.net.au, Selasa (01/09/2021), berikut fakta yang perlu diketahui terkait varian Mu:

1. Apa itu varian Mu?

Varian Mu dikenal juga sebagai varian B.1621 yang pertama kali ditemukan pada Januari 2021 di Kolombia. Varian ini masuk dalam daftar Variant of Interest (VOI).

Varian dalam kategori Variant of Interest (VOI) berarti perlu dilakukan pemantauan khusus oleh WHO terhadap varian tersebut karena memiliki risiko atau masalah potensial yang lebih kecil dari varian delta dan varian Alpha yang sudah masuk dalam katergori Variant of Concern (VOC).

Varian Mu adalah varian pertama yang masuk dalam Variant of Interest (VOI) pada Juni lalu.

Menurut WHO, varian Mu masuk dalam Variant of Interest (VOI) karena memiliki "konstelasi atau kumpulan mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan" yang perlu dipelajari lebih lanjut.

Paul Griffin, ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland, mengatakan saat ini para ahli sedang mencari "escape variants," atau varian pelarian, yakni varian yang diduga bisa lebih mudah menginfeksi orang yang sudah divaksin melalui mutasi pada protein lonjakan virus.

"Jika protein lonjakan itu berubah secara signifikan, maka pasti ada potensi vaksin kami bekerja kurang baik," jelasnya, seperti ditulis ABC.

WHO menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami efek varian Mu, tetapi Dr Griffin mengatakan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa varian Mu cocok sebagai "escape variants."

Selain itu, WHO menambahkan infeksi COVID-19 yang disebabkan varian Mu secara global telah menurun sejak pertama kali terdeteksi. Namun di Kolombia (39 persen) dan Ekuador (13 persen) secara konsisten justru meningkat.

Varian ini menyumbang kurang dari 0,1 persen kasus infeksi COVID-19 global, tetapi telah ditemukan di sejumlah bagian Amerika Serikat dan Eropa.

2. Apakah varian Mu kebal vaksin?

WHO mengatakan bahwa data awal menunjukkan varian Mu tampaknya lebih kebal terhadap antibodi.

Namun, dr Griffin mengatakan tes laboratorium tidak memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana kekebalan manusia bekerja di dunia nyata.

"Studi penetralisir itu sangat berguna karena cukup mudah dilakukan dan cukup cepat, tetapi itu adalah bagian dari cerita, bukan keseluruhan cerita," kata dr Griffin.

"Kita perlu melihatnya secara klinis dan juga di dunia nyata, kita melihat perubahan sifat yang berarti vaksin benar-benar kehilangan kemanjurannya," ujar dr Griffin.

WHO juga menegaskan bahwa penyelidikan lebih lanjut diperlukan dan dr Griffin mengatakan varian Mu seharusnya tidak menjadi kekhawatiran.

Selain varian Mu, pa saja varian lain yang dipantau oleh WHO? Selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2