Jumat, 03 Sep 2021 21:05 WIB

Ibu di Jabar Tak Tidur 7 Tahun, Dokter Sebut Insomnia Meningkat Saat Pandemi

Vidya Pinandhita - detikHealth
young beautiful hispanic woman at home bedroom lying in bed late at night trying to sleep suffering insomnia sleeping disorder or scared on nightmares looking sad worried and stressed Insomnia (Foto: Ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Seorang wanita asal Bandung Barat mengaku tak bisa tidur sejak 2014. Awalnya, ia bisa tidur dua hingga 3 jam sehari. Namun kini kondisinya memburuk, ia tak bisa tidur sama sekali. Sepanjang malam ia gelisah. siang hari pun menjadi sensitif.

"Awalnya itu tahun 2014, ngerasa nggak bisa tidur. Kalau mau tidur itu gelisah, paling bisa tidur hanya dua jam atau tiga jam, terus bangun lagi. Tapi sekarang sudah enggak bisa tidur sama sekali," ungkapnya pada detikcom, Selasa (31/8/2021).

Pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran, dr Andreas Prasadja atau yang biasa disapa dr Ade, menjelaskan kasus-kasus gangguan tidur seperti insomnia sebagaimana yang dialami wanita asal Bandung sebenarnya sudah banyak terjadi. Namun ia menegaskan, insomnia adalah gejala, bukan diagnosis akhir. Maka, penyebab insomnia pada setiap pengidap mungkin berbeda dan harus ditelaah dengan pemeriksaan.

"Banyak kok, kasus insomnia itu banyak. Apalagi sejak pandemi. Saya kasih tahu, waktu sejak pandemi, ini penelitiannya dari National Sleep Foundation di Amerika. Jadi kata kunci pencarian Google, dilihat dari Google. Kata kunci insomnia pada masa pandemi 2020 dibandingkan bulan yang sama pada 2019 itu meningkat 38 persen," terangnya pada detikcom, Kamis (2/9/2021).

Ia menambahkan survei lainnya dari Royal Philips menyebut hampir 80 persen orang yang diteliti selama masa pandemi mengaku mengalami keluhan berupa gangguan tidur.

"Misalkan karena pandemi, isolasi sepanjang hari di tempat yang sama, pencahayaan yang sama, aktivitas tidak bervariasi itu juga menyebabkan nggak bisa tidur," ujar dr Ade.

"Ada yang dilatarbelakangi gangguan jiwa dalam arti khawatir berlebihan, itu ada lagi. Jadi beda-beda, ada yang karena pekerjaan shift," lanjutnya.

Hal serupa dijelaskan oleh Dokter tidur dari RS Medistra, dr Rimawati Tedjasukmana, SpS. Menurutnya, masalah tidur atau insomnia benar meningkat seiring pandemi COVID-19.

"Pemicu bisa macam-macam. Misalnya tiba-tiba sakit, stres emosional, stres kerja, perubahan lingkungan, depresi, dan lain-lain," ujarnya.

"Sepanjang pandemi banyak insomnia. Pemicu cemas, perubahan gaya hidup (seperti) Work from Home dan lain-lain, perubahan jadwal," sambungnya.



Simak Video "2.000 Tempat Tidur Tambahan Disiapkan untuk Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)