Minggu, 12 Sep 2021 15:07 WIB

Bisakah Pengidap Vaginismus Miliki Keturunan? Ini Kata Dokter

Syifa Aulia - detikHealth
woman wearing white Sleepwear lying on bed . Female holding hand to spot of vagina-ache. Concept photo Penis pain.Health care concept,Soft focus Foto: Getty Images/iStockphoto/patchanan promunat
Jakarta -

Vaginismus adalah penyakit yang dialami oleh perempuan ketika otot dinding vagina mengalami kekakuan. Penyakit ini diklasifikasikan sebagai penyakit organ intim.

dr Robbi Asri Wicaksono, SpOG, selaku praktisi medis vaginismus mengatakan bahwa vaginismus tidak dapat dikendalikan oleh pengidap sehingga bisa menyebabkan kegagalan penetrasi. Lantas, bisakah pengidap vaginismus memiliki keturunan?

Menurut dr Robbi, sebesar 4,9 persen pengidap vaginismus yang tidak pernah mengalami penetrasi dinyatakan hamil. Dalam dunia medis, kondisi itu dapat dikatakan sebagai splash pregnancy.

"Jadi mereka memang tidak melakukan penetrasi, tetapi hampir pasti ejakulasi dilakukan di depan vagina persis. Kita tahu ejakulasi itu memiliki daya sembur dan vaginanya penderita vaginismus itu tidak menutup," jelas dr Robbi dalam program e-Life detikcom, Jumat (10/9/2021).

Meski demikian, ia mengatakan bahwa penyakit vaginismus dapat menghalangi pengidap untuk hamil sebesar 95 persen.

Ia menyarankan, pengidap vaginismus untuk tidak perlu buru-buru memiliki keturunan. Hal yang harus diutamakan adalah mengobati penyakitnya. Meski melalui program hamil, cara itu juga tetap memerlukan penetrasi vagina untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.

"Makanya saya selalu bilang bahwa vaginismus bukan hanya urusan seks. Tapi juga urusan kesehatan pribadi yang bersangkutan. Jadi kalo anda memang masih vaginismus, saya rasa bisa hamil itu adalah sesuatu langkah yang menurut saya nanti bisa membahayakan diri anda sendiri," kata dr Robbi.

Jika terlanjur mendapat kehamilan, dr Robbi menyarankan agar pengidap memberi tahu terkait penyakit vaginismusnya kepada dokter yang menangani persalinan.

"Misalnya dia (penderita vaginismus) kandidat persalinan pervaginam. Itu adalah proses panjang yang memerlukan pemeriksaan terhadap vagina berulang-ulang kali dengan jeda waktu mungkin setengah jam sampai satu jam. Apalagi kalau tempat pelayanan kesehatannya tidak memahami situasi itu, menganggapnya bahwa orang ini gak mau kerja sama untuk diperiksa," jelasnya.



Simak Video "Cara Sembuhkan Vaginismus"
[Gambas:Video 20detik]
(Syifa Aulia/fds)