Selasa, 21 Sep 2021 21:15 WIB

Tiba-tiba Mens Usai Divaksin COVID-19 Padahal Sudah Menopause, Kok Bisa?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Vaksin COVID-19. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Seorang wanita berusia 57 tahun asal London kaget tiba-tiba kembali menstruasi usai menerima vaksin Corona dosis pertama AstraZeneca. Pasalnya, wanita bernama Jacqueline Goldsworthy ini sudah menopause dan tidak menstruasi selama 20 tahun.

Dikutip dari Daily Mail, ia mengungkapkan pendarahan yang dialaminya jauh lebih berat daripada menstruasi sebelum dirinya menopause. Setelah melaporkan kondisi tersebut, Goldsworthy langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani tes medis.

Ini bertujuan untuk mengecek apakah pendarahan yang ia alami ini adalah gejala kanker atau penyakit lain. Usai menjalani tes kesehatan, kondisi Goldsworthy dinyatakan sehat. Tidak ada gejala kanker maupun penyakit lainnya.

Kondisi tersebut hanya berlangsung selama seminggu, sebelum vaksin dosis kedua diberikan. Setelahnya, menstruasi yang dialami Goldsworthy mereda dan tidak terjadi lagi.

Selain mengalami menstruasi, Goldsworthy juga mengalami efek samping umum dari vaksin Corona lainnya. Misalnya seperti sakit kepala, menggigil, dan nyeri.

Benarkah menstruasi setelah menopause termasuk efek samping dari vaksin COVID-19?

Berdasarkan data resmi terkait efek samping vaksinasi COVID-19 di Inggris, ada 366 laporan pendarahan pada vagina setelah mengalami menopause. Ini dialami oleh wanita yang menerima vaksin AstraZeneca, Pfizer, ataupun Moderna.

Meski begitu, ahli medis di Inggris mengungkapkan itu bukanlah dampak buruk dari vaksin. Para dokter mengatakan pendarahan pada vagina ini bisa terjadi secara kebetulan dan bukan karena vaksin.

Menurut National Health Service (NHS), pendarahan setelah menopause biasanya tidak terlalu serius, tapi bisa menjadi tanda dari penyakit kanker. Namun, pejabat kesehatan setempat belum mengetahui adanya hubungan antara vaksinasi dan siklus menstruasi yang tidak teratur.

"Kami mendorong siapa saja yang mengalami pendarahan hebat yang tidak biasa bagi mereka, terutama yang terjadi setelah menopause, untuk segera berkonsultasi ke dokter," kata wakil presiden Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, Dr Jo Mountfield.

"Meskipun begitu, untuk divaksinasi sebagai perlindungan terbaik terhadap virus Corona," lanjutnya.

Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan (MHRA) mengatakan pihaknya tengah menyelidiki adanya kasus menstruasi yang tidak terduga. Mereka menegaskan bahwa perubahan menstruasi itu sebagian hanya terjadi sementara dan bisa terjadi karena infeksi Corona.

"Perubahan siklus menstruasi juga telah dilaporkan setelah infeksi COVID-19 dan pada orang yang terkena long Covid. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin Corona akan mempengaruhi kesuburan seseorang," tegasnya.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)