Minggu, 26 Sep 2021 12:43 WIB

Terpopuler Sepekan

Heboh Klaster COVID-19 Sekolah Tatap Muka, Ini Klarifikasinya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilakukan di Siswa SMP Negeri 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Anak-anak tampak gembira bisa masuk sekolah lagi. Ilustrasi. Foto: Whisnu Pradana
Jakarta -

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) disebut memicu temuan 1.296 klaster COVID-19 di sekolah dengan mayoritas pasien anak-anak SD. Namun Kemendikbudristek membantah, kabar tersebut sebenarnya mispersepsi.

Sebelumnya, pada Selasa (21/9/2021), Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri melaporkan akumulasi data kelompok SD mempunyai angka kasus COVID-19 terbanyak dengan jumlah 581 sekolah, dengan total guru dan tenaga kependidikan 3.174 orang positif COVID-19. Sementara siswa yang positif COVID-19 berjumlah 6.908 orang.

"Jadi itu adalah akumulasi sejak Juli 2020, atau tahun ajaran 2020 sampai 2021," terangnya lebih lanjut dalam konferensi pers virtual, Jumat (25/9/2021).

"Jadi itu kira-kira masa 14 bulan dari perjalanan pembelajaran di Indonesia baik yang PTM maupun non PTM," sambungnya.

Dalam kesempatan juga, Jumeri meluruskan bahwa setelah diteliti ulang, ada juga temuan kasus COVID-19 yang sebenarnya disebabkan oleh kasus di keluarga. Menurutnya jumlah kasus COVID-19 di sekolah jumlahnya masih relatif sedikit. Bahkan, di antara laporan klaster tersebut terdapat sekolah yang hanya mencatat satu kasus COVID-19.

"Ada satu keluarga sekolah kena, bahkan belum tatap muka belum belajar masuk Juli, masih kebanyakan sekolah terkunci sudah dilaporkan sebagai klaster. Inilah mispersepsi," beber Jumeri.

"Sekolah yang menjadi klaster sebenarnya adalah sekolah-sekolah yang keluarga sekolahnya sedang terpapar COVID-19. Bukan klaster sekolah, tapi sekolah-sekolah yang warganya pernah atau sedang mendapat COVID-19," imbuhnya.

Ia menegaskan diperlukan validasi data lebih lanjut lantara ada sekolah yang ikut melaporkan keluarga terjangkit COVID-19 sebagai klaster COVID-19. Padahal, jumlah kasus COVID-19 di sekolah-sekolah sebenarnya masih relatif sedikit sehingga tidak sepenuhnya sesuai dengan pengertian 'klaster' sebagaimana di awal pandemi.

"Ini datang yang memang terjadi di sekolah walaupun relatif jumlahnya masih sedikit. Kalau kita lihat mungkin hanya satu yang kena COVID-19 kemudian dilaporkan secara klaster. Saya kira di awal pandemi dulu pemahaman klaster di sekolah masih terbatas," pungkas Jumeri.

Simak juga: Wanita Cantik Asal Bandung, Ahli 'Bongkar' Tulang dan Sendi

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)