Senin, 27 Sep 2021 12:30 WIB

Hari Jantung Sedunia

Dialami Chef Haryo Sampai Harus Operasi, Serumit Apa Sakit Jantung Saat Pandemi?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Chef Haryo Chef Haryo menjelang operasi jantung. (Foto: Hanif Hawari)
Jakarta -

Chef Haryo berencana menjalani operasi besar pada 30 September 2021. Langkah tersebut akan ia jalani demi mengatasi penyakit jantung yang diidapnya.

Kepada detikcom Chef Haryo menyebut telah melalui berbagai pertimbangan sebelum memutuskan operasi. Sempat divonis tinggal memiliki harapan hidup 70 persen, ia berharap operasi ini bisa menjadi cara untuknya bertahan hidup.

"Saya percaya kepada kelahiran dan hidup Allah sudah atur waktu dan tanggalnya jadi apa yang saya hadapi besok ini adalah sebuah ikhtiar saya sebagai manusia untuk tetap hidup dan bertahan," ujar Chef Haryo, dikutip dari detikHot, Senin (27/9/2021).

Risiko penyakit jantung semakin besar di tengah pandemi COVID-19

Dalam kesempatan lainnya, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Isman Firdaus, MD, PhD menyebut pengidap penyakit jantung dan kardiovaskular cenderung mengalami perburukan kondisi seiring pandemi COVID-19.

"Sejak berlangsungnya COVID-19 di awal tahun 2020, sudah dilaporkan baik di luar negeri maupun di Indonesia, terutama China dan Amerika Serikat, bahwa pasien yang mengalami paparan COVID-19 dapat mencetuskan perburukan," terangnya dalam diskusi daring Hari Jantung Sedunia 2021 di YouTube Kementerian Kesehatan, Senin (27/9/2021).

"Jadi pasien penyakit jantung yang terpapar COVID-19 dapat menyebabkan perburukan yang serius dari penyakit kardiovaskular dan juga akan menyebabkan kematian," sambungnya.

Lebih lanjut ia menegaskan infeksi COVID-19 diketahui meningkatkan risiko kematian pada pengidap penyakit jantung. Sementara berdasarkan laporan dari rumah sakit, 16,3 persen pasien COVID-19 di ruang isolasi memiliki riwayat penyakit komorbid kardiovaskular.

"Biasanya kalau serangan jantung angka kematiannya 8 persen rata-rata di Indonesia. Namun pada situasi COVID-19 angka kematian meningkat 22-23 persen," beber dr Isman.

"Hal ini terjadi salah satunya karena memang paparan dari COVID-19 itu sendiri dengan berbagai macam mekanisme yang menyebabkan perburukan jantung kita," pungkasnya.

Terakhir ia mengingatkan masyarakat, khususnya yang memiliki riwayat penyakit jantung, untuk senantiasa menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan mengikuti vaksinasi. Sebab dengan vaksin, pun pasien penyakit jantung kelak terpapar COVID-19, gejala bisa diminimalkan dan risiko kematian bisa ditekan.



Simak Video "Kerja Tak Kenal Waktu, Ini Risikonya untuk Kesehatan!"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)