Selasa, 28 Sep 2021 18:45 WIB

Ciri Khas Nyeri Dada pada Penyakit Jantung, Ini Bedanya Menurut Dokter

Inkana Izatifiqa R Putri - detikHealth
ilustrasi sakit jantung Foto: Shutterstock
Jakarta -

Penyakit jantung atau kardiovaskular menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia dengan persentase sekitar 16-17%. Sementara di Indonesia, sekitar 21% penyebab kematian juga disebabkan oleh penyakit jantung.

"Selain menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, penyakit jantung atau kardiovaskular juga masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Setidaknya 18 juta jiwa di dunia meninggal karena penyakit jantung dan kardiovaskular," ujar Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Esti Nurjadin dalam webinar 'Penyakit Jantung Rematik dan Mengenal Penyakit Jantung Sejak Dini' yang digelar detikcom bersama Omron dan Ensure, Selasa (28/9/2021).'

Soal penyakit jantung, Esti menjelaskan saat ini masih masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui beragam penyakit jantung, termasuk jantung rematik. Meski penyakit jantung rematik dapat dicegah, penyakit ini masih menjadi masalah serius di negara berkembang.

"Menurut data dari World Heart Federation, lebih dari 300 ribu meninggal karena penyakit jantung rematik di dunia. Sebanyak 39 juta orang di dunia hidup dengan penyakit jantung rematik, khususnya anak-anak dan dewasa muda yang terbatas akses kesehatan," katanya.

Sementara itu, Cardiologist, dr. Herenda Medishita, SpJP, FIHA menyampaikan beberapa penyakit jantung pada dasarnya dapat dicegah, termasuk penyakit jantung rematik. Salah satunya dengan mengenali gejala umum penyakit jantung, yakni nyeri dada.

Sebab, kata dokter yang akrab disapa Shinta tersebut, nyeri dada juga dapat terjadi pada pasien selain jantung. Adapun nyeri dada ini biasanya disebut dengan Angina Atypical dan tidak mengancam nyawa.

"Kalau nyerinya yang cuma bisa ditunjuk dengan satu jari, tidak terkait dengan aktivitas, munculnya random atau acak itu bisa disebabkan oleh (penyakit) di luar jantung. Seperti paling umum gangguan lambung, stress psikososial, gangguan muskuloskeletal, dan akibat long COVID-19," katanya.

Sementara itu, nyeri dada pada penyakit jantung disebut Angina Typical. Nyeri dada biasanya terjadi pada dada sebelah kiri dan terasa seperti ditusuk. Kondisi ini juga biasanya dibarengi dengan gangguan kesehatan lainnya seperti sesak nafas, jantung berdebar, dan mudah lelah. Tak seperti nyeri dada pada penyakit di luar jantung, kondisi ini biasanya mereda jika diberikan nitrogliserin atau stress hilang.

"Kalau Angina Typical sering kali nyerinya itu seperti ditusuk kayak ditarik atau dicubit. Jadi kalau nyeri dadanya orang (sakit) jantung itu nggak bisa cuma ditunjuk dengan satu jari cuma (sakit) di sini doang, jadi dia itu di satu area," katanya.

"Pada nyeri dada yang khas penyakit jantung, biasanya nyeri dada di kiri seperti ditekan atau ditindih batu yang berat kayak diremas. Dan dia berlangsung biasanya lebih dari 20 menit terus menerus, lalu disertai dengan keringat dingin, mual, sesak, bahkan pingsan. Nyerinya juga akan tembus ke punggung menjalar ke lengan kiri, atau ulu hati juga bisa. Selain itu, dia juga biasanya berespons dengan obat pembuluh darah seperti nitrat atau vasodilator," sambungnya.

Menurut dr. Shinta, ciri khas nyeri dada penyakit jantung ini penting untuk dikenali. Dengan demikian, pasien yang mengalami hal ini dapat segera mengetahui kondisinya dan mengantisipasi memburuknya penyakit.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. Isman Firdaus mengimbau agar masyarakat dapat menjaga kesehatan guna terhindar dari penyakit jantung. Ia pun turut menyarankan agar para pasien penyakit jantung untuk segera divaksinasi guna menghindari memburuknya kondisi kesehatan jika terpapar COVID-19.

"Penyakit kardiovaskular kalau di dunia ini angka kematiannya tinggi. Jadi memang menjadi hal penting untuk menjaga kesehatan. Sebisa mungkin kita menjaga kesehatan jantung dengan stop merokok, akses makanan sehat, aktivitas fisik, dan terapkan protokol kesehatan, dan yang terakhir harus divaksinasi. Kita mendukung, dokter spesialis di indonesia berharap pasien kita semua (bisa) divaksin. Karena (jika) pasien penyakit jantung sekali kena Covid maka ancaman perburukan dan meninggalnya juga tinggi," pungkasnya.



Simak Video "Kerja Tak Kenal Waktu, Ini Risikonya untuk Kesehatan!"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)