Jumat, 01 Okt 2021 08:41 WIB

Cerita Warga Singapura Was-was Hidup di Tengah Amukan Corona

Ayunda Septiani - detikHealth
Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19. Foto ilustrasi. (Foto ilusttasi: Getty Images/Ore Huiying)
Jakarta -

Singapura dihadang lonjakan kasus COVID-19 di tengah strategi hidup berdampingan dengan COVID-19. Terus mencetak rekor kasus baru, per Kamis (30/9/2021) tembus 2.478. Angka tersebut melewati jumlah penambahan kasus harian di Indonesia saat ini.

Sementara Indonesia pada Kamis (30/9/2021) melaporkan penambahan 1.690 kasus positif COVID-19. Tak hanya kasus harian, angka kematian COVID-19 di Singapura juga melonjak hingga delapan orang dalam 23 jam terakhir pada hari Rabu (29/9/2021).

Lonjakan kasus COVID-19 ini pun mempertanyakan soal efektivitas penanganan pandemi oleh pemerintah. Sebab, ini terjadi ketika sebagian besar warga Singapura telah merampungkan vaksinasi COVID-19.

"Saya mencoba menerapkan pola pikir (soal COVID-19) sebagai penyakit endemik yang sedang ditransisikan oleh pemerintah, tetapi itu sangat sulit," papar salah satu warga Singapura, Joys Tan, seperti dikutip dari laman AP News.

Tan merupakan salah satu penduduk Singapura yang mentaati protokol kesehatan selama pandemi.

Sejak virus Corona menyebar di Singapura, Tan langsung mengikuti kebijakan pemerintah seperti menjaga jarak dengan orang-orang, menggunakan masker, dan melakukan vaksinasi.

Sampai pada akhirnya pemerintah Singapura mengumumkan pelonggaran pembatasan dan rencana hidup berdampingan dengan COVID-19, Tan pun mulai percaya diri untuk kembali bersosialisasi.

Pada awal bulan ini, Tan sudah bisa makan malam bersama dengan keluarga, termasuk neneknya, meski lonjakan COVID-19 tengah naik-naiknya di Singapura.

Namun, dua hari kemudian, Tan mendapatkan kabar bahwa neneknya dinyatakan positif COVID-19. Dia pun langsung melakukan karantina mandiri sebagai upaya pencegahan. Selain itu, ia juga tinggal terpisah sementara waktu dengan suami dan anaknya berusia 2 tahun.

"Saya khawatir sepanjang waktu, karena tidak tahu efek jangka panjang apa yang diakibatkan dari infeksi COVID-19," tambahnya.

Bagi Tan, hidup berdampingan dengan COVID-19 berarti hidup selamanya bersama ketakutan dan kecemasan terinfeksi SARS-CoV-2.

"Apalagi ketika Anda hidup dengan anak kecil, kecemasan itu terus hadir di pikiran," kata Tan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung tengah berusaha menghilangkan kekhawatiran masyarakat dengan mengatakan gelombang COVID-19 saat ini adalah sesuatu yang telah diprediksi pemerintah.

Ia mengimbau masyarakat untuk melihat lonjakan ini sebagai ritual peralihan bagi negara yang berharap untuk hidup berdampingan bersama COVID-19.

"Kita berada di jalur transisi menuju kehidupan normal baru dengan COVID-19," kata Ong.



Simak Video "Status Penularan Covid-19 di Singapura Jadi 'Unknown'"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)