Jumat, 01 Okt 2021 12:31 WIB

'Resesi Seks' Berdampak Kelahiran Bayi Menurun, Singapura Kenapa?

Ayunda Septiani - detikHealth
Singapura jadi salah satu negara yang tengah berjibaku atasi lonjakan kasus COVID-19. Meski begitu, pandemi tak lunturkan pesona Singapura di malam hari. Foto ilustrasi. (Foto: Suhaimi Abdullah/Getty Images for International Paralympic Committee)
Jakarta -

Warna negara Singapura disebut mengalami 'resesi seks'. Hal tersebut dilihat dari rendahnya angka perkawinan di negara tersebut.

Resesi merupakan istilah terkait ekonomi untuk pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Dikutip dari laman Channel News Asia, disebutkan ada 19.430 pernikahan pada tahun lalu. Hal ini turun 12,3 persen dari tahun sebelumnya (2019) yaitu sekitar 22.165.

Menurut Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura, ini merupakan catatan terendah sejak 1986 silam, ketika ada 19.348 pernikahan.

"Pembatasan pertemuan besar pada tahun lalu bisa menyebabkan pasangan menunda pernikahannya," ujar divisi tersebut.

Selain itu, lembaga itu juga menyebut bahwa COVID-19 menjadi akar permasalahan dari menurunnya aktivitas seksual warga. Di mana pandemi mengganggu atau menunda pasangan untuk melakukan pernikahan dan menjadi orang tua.

"Penurunan ini mungkin sebagian karena pembatasan perjalanan terkait COVID-19," ucap badan tersebut.

Tak hanya permasalahan pernikahan, pandemi juga menyebut berkurangnya keputusan warga untuk menjadi orang tua. Disebutkan, hanya ada 31.816 kelahiran di Singapura pada tahun 2020, ini disebut 3,1 persen lebih rendah dibanding sebelumnya, yaitu 32.844.

Badan kependudukan Singapura menyebut bahwa dalam survei terhadap sekitar 4.000 orang di Juni 2020, beberapa responden juga mengatakan bahwa mereka telah menunda pernikahan dan menjadi orang tua

"Karena kekhawatiran tentang kondisi kesehatan dan ekonomi masyarakat yang tidak pasti," ujar otoritas itu seraya menyebut masih menelaah dampak COVID-19.

"Kami terus menghadapi tantangan struktural jangka panjang dengan tingkat kelahiran kami yang rendah, serupa dengan masyarakat maju lainnya."

Tambahan informasi, Singapura memberi insentif bagi mereka yang ingin memiliki anak dan menjadi orang tua di tengah pandemi Corona. Di mana ada dana hibah 3.000 dolar Singapura atau setara dengan Rp 31 juta.

Saksikan juga:Frans Sanjaya, Youtuber Spesialis Action Figure Jutaan Rupiah

[Gambas:Video 20detik]



(ayd/up)