Kontaminasi Logam di Vaksin COVID-19 Moderna Jepang Disebut 'Human Error'

ADVERTISEMENT

Kontaminasi Logam di Vaksin COVID-19 Moderna Jepang Disebut 'Human Error'

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jumat, 01 Okt 2021 17:30 WIB
Menurut peneliti, vaksin buatan Modern Inc dikabarkan mampu untuk menangkal COVID-19 varian Delta.
Ilustrasi vaksin COVID-19 Moderna. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Terkait temuan kontaminasi logam pada vaksin COVID-19 Moderna di Jepang, Takeda Pharmaceutical Jepang menyebut ada unsur 'kesalahan manusia'.

Takeda, perusahaan importir dan distributor vaksin di Jepang, menyebut produsen Spanyol menemukan kontaminan di beberapa botol pada Juli 2021. Akan tetapi, pasokan dari produksi tersebut tetap diizinkan dikirim ke Jepang.

Pihak berwenang Jepang pada Agustus 2021 menangguhkan penggunaan tiga batch dosis vaksin Moderna. Dilaporkan sebanyak 1,63 juta dosis terkontaminasi bahan logam. Moderna kemudian melakukan penyelidikan dalam kemitraan bersama Takeda dan pabrikan Spanyol Rovi, yang mengoperasikan pabrik lokasi kontaminasi.

Laporan terbaru menyebut kontaminasi tersebut disebabkan perakitan yang salah karena kesalahan manusia.

"Perakitan yang salah disebabkan kesalahan manusia spesifik untuk secara visual, salah dalam menilai jarak 1mm yang diperlukan antara roda bintang dan sumbat pada mesin yang menempatkan bagian atas botol vaksin," tertulis dalam laporan, dikutip dari Channel News Asia, Jumat (1/10/2021).

Lima lot berurutan vaksin Moderna produksi Rovi antara 27 Juni dan 3 Juli diselidiki lebih lanjut. Tiga lot pertama dikirim ke Jepang, kemudian ditarik kembali setelah ditemukan kontaminasi partikel. Setelah dikaji, partikel tersebut yakni baja tahan karat di dalam 39 botol.

Lot keempat gagal diperiksa setelah penemuan partikel pada 2 Juli 2021. Lot kelima kemudian ditahan oleh Rovi. Masalah pada lot keempat dan kelima ini kemudian dilaporkan ke Moderna, Takeda, dan Kementerian Kesehatan Jepang. Ketiga lot sebelumnya dibebaskan dengan alasan telah lulus inspeksi dan dianggap tak terdampak kontaminasi.

Namun berdasarkan laporan penyelidikan, masalah tetap ditemukan pada seluruh rangkaian lima batch. Ditegaskan, prosedur operasi dengan alat presisi baru diperlukan untuk mencegah terulangnya masalah serupa.



Simak Video "Booster Kedua untuk Lansia Direstui, Bagaimana dengan Masyarakat Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT