Sabtu, 02 Okt 2021 19:19 WIB

4 Fakta 'Resesi Seks' di China, Penurunan Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah

Ayunda Septiani - detikHealth
A woman plays with a child in a compound near a commercial office building in Beijing on May 10, 2021. Chinas ruling Communist Party will ease birth limits to allow all couples to have three children instead of two to cope with the rapid rise in the average age of its population, a state news agency said Monday. (AP Photo/Andy Wong) Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: AP/Andy Wong)
Jakarta -

China dilaporkan tengah mengalami 'resesi seks'. Hal ini dikarenakan dalam satu dekade telah menunjukkan bahwa kelahiran di China turun ke tingkat terendah sejak tahun 1960-an.

Selain itu, hasil dari sensus China yang dirilis pada bulan Juli lalu menunjukkan bahwa sekitar 12 juta bayi lahir tahun lalu.

Sebagai informasi, resesi merupakan istilah ekonomi untuk pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Berikut sederet fakta 'resesi seks' di China dikutip dari laman BBC.

1. Populasi menyusut

Survei yang dilakukan oleh otoritas China dalam satu dekade menunjukkan tingkat pertumbuhan penduduk China selama dekade terakhir adalah yang terendah sejak 1960-an.

Populasi yang menyusut bermasalah dikarenakan struktur usia yang terbalik, dengan lebih banyak orang tua daripada usia muda.

Ketika hal tersebut terjadi, tidak akan ada cukup pekerja di masa depan untuk mendukung orang tua, dan kemungkinan ada peningkatan permintaan untuk perawatan kesehatan dan sosial.

2. Angka kelahiran turun

Sensus terkini di China, yang dipublikasikan bulan Mei lalu, menunjukkan bahwa hanya sekitar 12 juta bayi lahir pada tahun lalu.

Angka ini menjadi penurunan yang signifikan dari data tahun 2016, yang sebanyak 18 juta bayi, sekaligus merupakan angka kelahiran terendah sejak 1960-an.

Dikutip dari laman Reuters, berdasarkan angka sensus yang dirilis awal bulan ini menunjukkan populasi China sekarang mencapai 1,41 miliar. Hal ini menunjukkan China masih salah satu yang terpadat di dunia.

3. Pemerintah China mengakhiri kebijakan 2 anak cukup

Penurunan tingkat kelahiran membuat pemerintah China mengakhiri kebijakan dua anak cukup. China saat ini mengizinkan pasangan suami istri untuk memiliki hingga 3 anak.

"Untuk lebih mengoptimalkan kebijakan kelahiran, kami akan menerapkan kebijakan pasangan dapat memiliki tiga anak setelah menikah," tulis kantor berita Xinhua.

4. Wanita ogah punya anak

Salah satu penduduk Beijing, Lii (nama samarannya) tidak berencana untuk mempunyai anak dalam waktu dekat.

Wanita berusia 31 tahun itu sudah menikah selama dua tahun dan ingin hidup tanpa harus mengkhawatirkan membesarkan anak.

"Saya memiliki sedikit teman sebaya yang memiliki anak, dan jika mereka memilikinya, mereka terobsesi untuk mendapatkan pengasuh terbaik atau mendaftarkan anak-anak di sekolah terbaik. Kedengarannya melelahkan," katanya.



Simak Video "China Terus Lanjutkan 'Strategi Nol Kasus' Lawan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)