ADVERTISEMENT

Minggu, 03 Okt 2021 06:42 WIB

Malaysia Lirik Molnupiravir, Bakal Jadi Obat Oral Pertama untuk COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Close-up of the automatic capsule package production line. Malaysia ingin beli molnupiravir. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Pertama kalinya, obat pil eksperimental disebut sukses menekan risiko rawat inap hingga kematian karena COVID-19. Hasil uji klinis sementara menunjukkan efektivitas obat molnupiravir setelah diberikan dua kali sehari pada pasien terpapar COVID-19.

Produsen obat Amerika Serikat, Merck, mengaku banyak respons positif dari banyak pihak sehingga disarankan segera mengajukan izin penggunaan darurat dalam dua pekan ke depan. Jika sudah disetujui, molnupiravir akan menjadi obat antivirus oral pertama untuk COVID-19.

Dikutip dari BBC, pil yang awalnya dikembangkan untuk mengobati influenza, dirancang untuk memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus, mencegah virus menyebar di dalam tubuh. Riset molnupiravir dilakukan pada 775 pasien.

Hasil studi

Ada 7,3 persen dari mereka yang diberi molnupiravir dirawat di rumah sakit, dibandingkan dengan 14,1 persen pasien yang diberi plasebo atau pil tiruan. Tidak ada kasus kematian pada kelompok molnupiravir, tetapi delapan pasien yang diberi plasebo dalam uji coba kemudian meninggal karena COVID-19.

Tak seperti kebanyakan vaksin COVID-19, para ahli mengungkap molnupiravir menargetkan enzim yang digunakan virus untuk menggandakan dirinya sendiri. Merck mengatakan obat tersebut juga efektif melawan varian baru dan virus yang kemungkinan muncul di masa mendatang.

"Pengobatan antivirus untuk orang yang tidak divaksinasi, atau yang kurang responsif terhadap kekebalan dari vaksin, adalah alat yang sangat penting dalam membantu mengakhiri pandemi ini," jelas Daria Hazuda, wakil presiden penemuan penyakit menular Merck, kepada BBC.

Hasil uji coba menyarankan molnupiravir perlu digunakan lebih awal setelah pasien COVID-19 mengalami gejala. Studi sebelumnya pada pasien yang sudah dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 parah dihentikan, setelah hasil yang riset dinilai mengecewakan.

Obat oral untuk COVID-19 pertama dilirik banyak negara

Merck adalah perusahaan pertama yang melaporkan hasil uji coba pil untuk mengobati COVID-19, tetapi perusahaan lain sedang meneliti obat serupa. Saingannya di AS, Pfizer, baru-baru ini memulai uji coba tahap akhir dari dua tablet antivirus yang berbeda, sementara perusahaan Swiss Roche juga sedang mengerjakan obat serupa.

Merck mengatakan mereka berharap bisa memproduksi 10 juta rangkaian molnupiravir pada akhir tahun 2021. Pemerintah AS telah setuju untuk membeli obat senilai 1,2 miliar US dolar, jika mendapat persetujuan dari badan pengawas obat dan makanan AS (FDA).

Malaysia menjadi salah satu negara yang tertarik membeli molnupiravir. Simak alasan di baliknya, di halaman selanjutnya.

Simak juga video 'Capaian Vaksinasi Dosis Pertama RI 3 Kali Populasi Malaysia':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT