Minggu, 03 Okt 2021 11:07 WIB

Malaysia Beli 'Molnupiravir' Obat Oral COVID-19 Pertama di Dunia, RI Minat?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi obat Indonesia berminat beli molnupiravir? (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Molnupiravir, obat oral untuk COVID-19 yang pertama kali melaporkan hasil uji klinis sementara, disorot banyak negara. Obat besutan Merck, perusahaan asal Amerika Serikat ini diklaim mencegah kasus rawat inap dan kematian akibat Corona.

Dari 775 pasien yang dianalisis, 7,3 persen di antaranya yang menerima molnupiravir dirawat di RS, angkanya lebih rendah ketimbang mereka yang menerima plasebo atau pil tiruan. Nihil kasus kematian bagi para penerima molnupiravir. sementara delapan pasien yang menerima plasebo dalam uji coba, wafat karena COVID-19.

Malaysia mengaku tengah berencana melakukan negosiasi terkait molnupiravir, untuk menambah salah satu strategi pengendalian COVID-19. Bagaimana dengan Indonesia?

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengungkap pemerintah belum melakukan pembicaraan lebih lanjut terkait kemungkinan membeli obat oral COVID-19 molnupiravir.

"Kita masih tunggu hasil uji klinisnya dulu," demikian konfirmasi dr Nadia yang juga selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes RI saat dihubungi detikcom Minggu (3/10/2021).

Diwawancara terpisah, ahli epidemiologi Dicky Budiman Universitas Griffith Australia menyambut baik hasil studi molnupiravir. Ia bahkan berharap obat oral COVID-19 ini bisa efektif mencegah penularan atau transmisi.

Dicky memprediksi ketersediaan sejumlah obat COVID-19 setidaknya rampung kuartal pertama tahun depan. Molnupiravir dinilai Dicky mudah didistribusikan ke pelosok-pelosok daerah yang sulit dijangkau karena berbentuk kapsul.

"Nah ini kan kalau bicara kapsul lebih banyak yang bisa dijangkau. Hanya sayangnya ini mahal ya, jutaan, kurang lebih. Tapi ini data awalnya sudah menjanjikan, bahkan lebih baik dari monoklonal antibodi yang selama ini banyak dipakai orang."

"(Obat) Ini akan menjadi memperkuat lini hilir di terapi, sehingga vaksin sudah ada, obat antiviral sudah ada. Nah ini artinya akan menjadi masa transisi ke endemi ini akan sedikit orang yang menjalani ICU apalagi harus ventilator, dan kematian tentu berkurang," pungkas dia.



Simak Video "Frans Sanjaya, Youtuber Spesialis Action Figure Jutaan Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)