Selasa, 05 Okt 2021 10:58 WIB

e-Life

Cerita Pria yang Terjebak di Ingatan Kelas 2 SD Pasca Stroke

dtv - detikHealth
Jakarta -

Pada masa pemulihan pasca stroke, beberapa pasien mengalami perubahan pada dirinya. Salah satunya terkait ingatan yang ibarat 'terhenti'.

Inilah yang dilalui penulis novel Valiant Budi Yogi saat proses pemulihan pasca stroke, enam tahun lalu.

"Saya sering banget di dua tahun pertama di masa pemulihan itu bangun, memori itu seperti stuck atau terjebak di tahun-tahun yang lampau. Seringkali saya bangun tuh kaya anak SD manggil-manggil nama ibu dan menanyakan seragam, 'Kok belum siap, Bu? Ini saya di mana?' Saya kaget aja ngelihat kamar yang sekarang kan beda banget dengan kamar saya waktu kecil," terang penulis yang akrab disapa Vabyo itu, di acara e-Life detikcom.

Hingga kini pun, Vabyo mengaku masih kesulitan mengingat hal-hal tertentu yang terjadi sebelum ia stroke.

"Terus terang, sampai sekarang saya agak bingung untuk mengingat sesuatu terutama ingatan yang terjadi sebelum stroke. Ingatan sebelum 2015 itu sulit sekali buat diingat, dan bahkan untuk hal-hal yang mudah seperti tanda tangan pun sampai sekarang masih harus nyontek KTP," jelas Vabyo.

Menanggapi hal ini, Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Roslan Yusni Hasan, SpBS mengatakan bahwa memori 'kacau' yang seperti dialami Vabyo adalah upaya otak untuk merawat ingatan.

"Dengan tidur dan mimpi itu adalah dalam rangka merawat ingatan, dalam artian merawat itu bukan mempertahankan ikatan apa adanya tapi melupakan hal-hal yang nggak penting supaya kita bisa bahagia, melupakan hal yang tidak enak," jelas dokter yang biasa disapa dr. Ryu ini.

dr. Ryu juga menjelaskan bahwa pada saat stroke akan terjadi konsentrasi yang berubah pada memori pasien, sehingga menyebabkan sulitnya mengingat ingatan tertentu.

"Nah pada saat stroke itu, maka akan terjadi konsentrasi yang berubah sehingga memori-memori yang nggak penting itu keluar semua. Sementara memori yang penting malah nggak keluar. Hanya saja yang namanya ini adalah gejala dan tanda setiap orang akan berbeda karena yang namanya otak sendiri itu tergantung," papar dr. Ryu.

(gah/gah)