Rabu, 13 Okt 2021 12:30 WIB

Hampir 50 Persen Wanita Muda di China Ogah Nikah, Picu Resesi Seks?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. Corona di China. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Hampir 50 persen wanita muda di China tak ingin menikah. Menurut survei baru di populasi muda perkotaan China, mereka yang memilih tidak menikah berada di rentang usia 18 hingga 26 tahun.

Survei dilakukan pada 2.905 orang yang belum menikah di kota-kota China, baik pada wanita dan pria. Ada 44 persen wanita di antaranya tidak berniat menikah, dan 25 persen pria dalam survei tersebut mengatakan hal serupa.

Apa sih penyebabnya?

Alasan generasi Z di China tak ingin menikah cukup beragam. Namun, 35 persen di antaranya didominasi dengan dalih tidak memiliki waktu atau energi untuk sebuah pernikahan.

Sementara 60,8 persen generasi Z China lainnya mengaku sulit menemukan orang yang tepat. Alasan lain meliputi biaya keuangan pernikahan dan beban ekonomi saat memiliki anak.

"Sepertiga responden juga mengatakan mereka tidak percaya pada pernikahan, dan persentase yang sama mengatakan mereka tidak pernah jatuh cinta," jelas survei tersebut, dikutip dari Insider Rabu (13/10/2021).

Pertanda buruk bagi China

Survei ini dinilai menjadi pertanda buruk bagi China yang tahun ini berusaha menerapkan kebijakan baru untuk meningkatkan angka kelahiran. China mencatat penurunan angka perceraian hingga 70 persen pada kuartal pertama tahun 2021 usai diterapkan undang-undang baru yang mengharuskan pasangan menunggu satu bulan untuk administrasi perceraian disetujui.

Undang-undang tersebut diterapkan dalam upaya meningkatkan tingkat kelahiran China yang lesu dengan mencegah perceraian impulsif. Mei tahun ini, China juga mengeluarkan kebijakan baru untuk memiliki tiga anak, mencabut aturan sebelumnya yaitu maksimal dua anak setiap pasangan.

Dihapusnya kebijakan maksimal dua anak membuat perubahan signifikan pada pertumbuhan populasi. Pergeseran penting dalam kebijakan kependudukan China tahun ini terjadi setelah China mencatat tingkat pertumbuhan populasi paling lambat sejak 1950-an.

Angka-angka ini terungkap dalam sensus penduduk sekali dalam satu dekade, yang mencatat bahwa tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata penduduk China turun menjadi 0,53 persen dalam kurun 10 tahun terakhir - turun dari 0,57 persen antara tahun 2000 dan 2010.

Kerja 9-9-6

Namun, generasi Z dari China berbicara pada bulan Juni, bahwa kebijakan tiga anak tidak mungkin memiliki efek yang diinginkan. Mereka mengatakan kepada Insider bahwa tingginya biaya membesarkan anak-anak, ditambah dengan gaya hidup '9-9-6' mereka yang serba cepat (di mana orang bekerja 12 jam sehari dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu) adalah salah satu hal yang menghalangi mereka untuk menikah, memiliki keluarga mereka sendiri.

Total populasi China masih mencapai 1,41 miliar orang, Reuters melaporkan bahwa China meleset dari target yang ditetapkan pada 2016 untuk mencapai 1,42 miliar orang pada 2020.



Simak Video "China Kembali Diamuk Corona, Timbul Klaster Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)